Wednesday, 7 December 2016

Menulis (4.12): Move On dari Kegagalan

Shabrina Aulia Tsani  
Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Malang

AKU mencintai dunia tulis menulis sejak kelas 3 sekolah dasar (SD). Saat itu aku suka berkhayal dan menuangkan imajinasiku ke dalam komputer. Bagiku, ketika itu, tanpa mempertimbangkan ini-itu, imajinasi dijadikan tulisan. Sebagai anak kelas 3 SD tentu saja pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan menulisku sangat terbatas. Tidak apa-apa. Yang penting, aku menulis.

Keasyikkan menulis sejak SD dan SMP berlanjut sampai aku sekolah di SMA. Ketika kelas 2 SMA, aku memberanikan menulis novel dan menerbitkannya. Ya, pada awalnya dicetak beberapa buku saja. Aku berpikir, sekalipun belum diterbitkan dalam arti penerbitan komersial, toh aku punya novel yang diterbitkan.

Setelah melalui proses demikian, setelah menulis novel Love in Scout Camp, aku mendapat suntikan semangat luar biasa dari Ayah. Ayah membantu menerbitkan secara indie dalam jumlah yang lebih banyak. Hanya saja, setelah dibaca ulang dan lebih didalami, bagiku novel Love in Scout Camp perlu direvisi. Tidak mengapalah. Kalau tidak ditulis dan tidak diterbitkan bagaimana kita tahu bahwa novel tersebut memerlukan sentuhan perbaikan bukan?

Aku sadari, saat SMA itu aku masih malas membaca buku sehingga pemahaman dan pemakaian kosakataku sangat minim. Berani-beraninya aku menerbitkan novel yang aku sendiri tidak begitu suka membaca. Sejak itu aku menyadari betapa pentingnya membaca dan keranjingan membaca karena tekadku menerbitkan novel yang berkualitas. Jika berkehendak menulis banyak hal, tetapi tidak menyukai membaca, tentu saja tidak matching, sebab apa yang akan ditulis dengan pengetahuan dan kemampuan minim? Oleh karena itu, aku tegaskan pada diriku untuk memperluas wawasan dengan membaca.

Ketika duduk di bangku perkuliahan, aku berkonsultasi ke dosen wali yang juga merupakan seorang penulis. Beliau menyarankan agar novelku dikirimkan ke penerbit UIN Press. Saran tersebut aku lakukan, sayangnya kepala penerbit UIN Press mengembalikan naskahku untuk diperbaiki karena diksi katanya yang masih terlalu ke-ABG-an.

Ya, aku menyadari, saat menuliskan novel yang sudah berganti judul menjadi “Integral” tersebut aku masih duduk di bangku SMA. Tentu saja novelku masih ”berbau” masa-masa di SMA; kisah cinta monyet. Jujur saja, akibat pengembalian tersebut aku sempat down. Menjadi beban mental tersendiri bagiku karena merasa sudah sangat bersusah payah, namun pada akhirnya naskahku ditolak. Sekalipun demikian, aku masih berusaha menulis dan menulis.

Akan tetapi tetap saja, aku gagal move on dari yang namanya penolakan naskah itu. Aku menjadi semakin yakin bahwa menulis adalah pekerjaan yang sia-sia. Harapan menerbitkan novel menjadi pudar. Semangatku untuk menulis menjadi semakin luntur. Ditambah kesibukan-kesibukan yang membuatku enggan untuk sekedar meliriknya.

Setelah berbulan-bulan lamanya mengalami kebuntuan dalam kepenulisan, akhirnya suntikan semangat itu datang juga. Ayah Ibu kompak mendukungku untuk menulis. Guruku semasa SMA, dan dosenku pun turut menyemangatiku menulis. Ditambah pertanyaan demi pertanyaan yang dilemparkan dari sahabatku semasa SMA maupun adik kelas,

“Mbak, novelnya kapan terbit?” Rasanya semesta alam mendukung cita-citaku sebagai penulis. Rangkaian peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu yang pendek itu seakan sukses mengembalikan semangat menulisku lagi.
Semangat sudah ada, namun kesibukan masih tetap saja menjadi hambatanku menulis. Tapi baru ku temukan bahwa tanpa adanya komitmen, misi menulis tidak akan berjalan istiqomah. Karena yang namanya cita-cita adalah melakukan apapun yang berkenaan dengannya tanpa merasa berat. Ia mau mengorbankan waktunya untuk itu.

Jadi ketika aku mulai membuat alasan “Tak sempat menulis karena sibuk”, aku harus meyakinkan diriku bahwa: “Bukan seberapa luang waktu yang kau sempatkan untuk menulis, tapi seberapa commite-nya kau terhadap menulis?”
Yaps, kini aku bergabung dengan komunitas menulis yang sangat membantuku yang menjadi wadah bagi orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam menulis.

Selamat menulis.

Share this

0 Comment to "Menulis (4.12): Move On dari Kegagalan"

Post a Comment