Ririn Wulandari
Mahasiswa Jurusan BSI UIN Malang
PENULIS di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari penulis pemula sampai penulis handal. Contoh nyata penulis handal yaitu Asma Nadia, Raditya Dika, Habiburrahman, dan lain-lain. Saya termasuk penulis pemula yang baru mulai menulis beberapa bulan yang lalu setelah mendapatkan motivasi dari dosen saya. Ada beberapa alasan kenapa saya tertarik menulis.
Pertama, menulis membantu saya menemukan jati diri. Saat jari-jemari mulai menari di atas keyboard dan menuangkan isi pikiran, saya mulai menemukan apa yang saya ketahui mulai dari diri saya sendiri hingga dunia. Menelaah apa yang disuka atau benci, apa yang menyakitkan, apa yang dibutuhkan, apa yang dapat di berikan, dan apa yang diinginkan. Menulis membantu memahami keberadaan di dunia dengan lebih baik.
Kedua, menulis memberi tempat untuk melampiaskan amarah, ketakutan, kesedihan, atau perasaan menyakitkan. Saat marah, takut, kecewa, sedih, atau depresi, menulis membantu untuk melampiaskan emosi-emosi tersebut di atas kertas daripada menahannya di dalam hati. Menulis merupakan cara paling aman dalam melampiaskan perasaan.
Ketiga, menulis membantu menyembuhkan diri dari segala rasa sakit. Setelah menulis saya merasa semua kepahitan dalam hidup menghilang begitu saja karena telah dituangkan dalam tulisan-tulisan yang saya ciptakan. Hal ini benar-benar membuat saya lebih semangat untuk menjalani kehidupan.
Awalnya, saya yang baru bergelut di dunia tulis menulis mempunyai pikiran untuk membuat banyak karya dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Kemudian saya publikasikan di media cetak, blog pribadi, atau sosial media. Saya membayangkan buku-buku saya terjual laris dan jadi best seller. Dan saya menjadi generasi penerus penulis hebat seperti Asma Nadia.
Kenyataannya sangat bertolak belakang dengan pikiran dangkal yang saya miliki. Terlalu tinggi khayalan saya, untuk menyelesaikan satu karya saja membutuhkan waktu seminggu. Saya tidak bisa membuat suatu karya dalam waktu sehari. Sering sekali saya memiliki ide cemerlang untuk membuat artikel, puisi , esai, atau karya sastra lainnya. Tetapi, ketika saya membuka laptop semua ide itu tertahan di otak. Sulit mengalirkan ide-ide tersebut ke dalam tulisan. Kalau tidak seperti itu, saat saya sudah menulis satu atau dua paragraf. Tangan saya terhenti dan melanjutkannya di lain hari. Tetapi, ini tidak untuk menulis semua karya sastra. Kesulitan menulis itu saya temui ketika menulis karya non fiksi seperti artikel dan esai. Karena pada dasarnya saya cenderung senang untuk menulis karya sastra yang berupa fiksi daripada karya sastra non fiksi.
Saya merasa tidak memiliki bekal apapun untuk menulis karya sastra nonfiksi. Pikiran inilah yang membuat kreativitas terhambat dan terasa sangat sulit. Bahkan, saya tidak yakin bahwa saya bisa menciptakan esai atau artikel. Hal ini membuat saya sadar bahwa saya hanyalah anak kemarin sore di dunia tulis menulis. Tentu saja, saya iri saat melihat teman-teman menulis esai dan artikel dengan mudah di blog mereka. Saya ingin seperti mereka tanpa merasa kesusahan atau kebingungan.
Tetapi, saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya belajar pelan-pelan menulis artikel dan esai walaupun hasilnya tidak menyatu antara paragraf satu dengan lainnya. Saat membaca artikel dan esai yang saya miliki, saya merasa benar-benar malu dan tidak percaya diri untuk mempublikasikan di blog pribadi.
Saat mendapatkan tugas kuliah untuk membuat esai, saya panik karena tidak yakin mampu membuat esai tersebut. Tetapi, tentu tidak mungkin menghindar dan tidak mau otomatis saya harus memahami semua hal tentang esai lebih dalam sebelum membuatnya. Saya meminjam beberapa buku dari perpustakaan dan membaca halaman dengan kesabaran. Saya tidak suka untuk membaca kecuali saat tugas wajib yang harus dikumpulkan tepat waktu. Dengan demikian, saya mulai mengerti apa itu esai, bagaimana cara membuatnya, seperti bahasa yang digunakan, dan lain sebagainya. Namun, saat mulai menulis keraguan datang lagi karena esai menggunakan gaya bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Saya terbiasa menulis puisi.
Akhirnya saya meyakinkan diri dan bangkit dari kepesimisan. Saya menulis esai itu dari beberapa buku yang saya pinjam, saya tidak perduli hasilnya nanti baik atau buruk. Yang penting menyelesaikan esai tersebut. Dari tugas esai tersebut saya menemukan cara tersendiri untuk mengurangi kesulitan dalam menulis karya nonfiksi. Saya harus mengambil risiko untuk memulai. Kalau saya takut untuk mengambil risiko tulisan yang saya ciptakan jelek maka saya tidak akan pernah berani untuk memulai menulis di atas kertas putih kosong yang sudah lama ingin saya isi dengan karya saya.
Saya tidak perlu membuat menulis itu terasa berat. Saya berpikir bahwa setiap penulis pasti pernah menulis karya yang buruk pada awalnya. Jika saya menganggap menulis itu berat maka kata-kata yang muncul di dalam tulisan saya akan penuh dengan rasa tegang dan takut. Saya harus menganggap menulis itu sebagai hal yang menyenangkan walaupun saya harus menulis hal yang belum pernah sama sekali saya tulis. Sehingga menulis esai atau artikel yang belum pernah saya tulis itu tetap terasa ringan dan menyenangkan seperti saat saya menulis puisi.
0 Comment to "Menulis (4.13) : Problematika Penulis Pemula"
Post a Comment