Wednesday, 7 December 2016

Menulis (4.14): Ayo Menulis

Zabib Sumayya
Mahasiswa Jurusan BSA UIN Malang

MENULIS itu bukanlah bakat, tetapi latihan. Sebesar apapun bakat yang kita miliki, tanpa adanya latihan maka bakat tersebut tidak ubahnya seperti tumpukan buku berdebu di sudut ruangan yang dilupakan pemiliknya. Buku-buku tersebut, seandainya si empunya sadar apa manfaat yang bisa ia dapat ketika ia bersedia merangkai kata perkata, kalimat per kalimat, dan menyusuri halaman per halaman dari buku-buku tersebut, maka ia tidak perlu mengeluarkan dana untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia Timur atau Barat, karena hanya dengan membaca maka ia akan dapat berkeliling dunia atau menjelajahi antariksa. Seperti itu juga bakat dalam menulis.

Sepandai apapun ia mengungkapkan sesuatu tanpa disertai dengan latihan, maka bakat tersebut akan menjadi sia-sia. Bayangkan, ketika tulisan yang kita buat mampu mengubah seseorang dari perilaku buruknya, atau bahkan mampu mengubah pemahaman keliru seseorang tentang sesuatu. Maka hal tersebut akan menjadi tabungan kebaikan bagi si penulis dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi si penulis.

Dewasa ini, banyak penulis yang telah mampu menyentuh hati pembacanya dengan kepiawaian mereka merangkai kata-kata menjadi sebuah tutur indah yang mampu menembus hati para penikmatnya. Bahkan, banyak dari para penyair Arab terdahulu yang mampu membuat pembaca meneteskan air mata hanya dengan membaca satu bait saja dari keseluruhan syair yang mereka buat. Mereka berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang dibuat dengan kejernihan hati maka akan sampai ke hati.

Hal ini, juga menunjukkan bahwa tidak benar ketika seseorang mengatakan, buat apa menjadi seorang penulis cerpen, novel, surat kabar atau majalah kalau nantinya hanya akan menciptakan sampah-sampah yang merusak lingkungan atau buku-buku usang yang merusak pemandangan ruangan? Perkataan semacam itu menunjukkan betapa sempitnya ia memahami dan betapa rendahnya ia memaknai ilmu. berapa banyak karya-karya ulama yang telah berusia ratusan tahun silam masih dikaji sampai sekarang seakan-akan beliau masih ada diantara kita.

Jangan takut menjadi seorang penulis, karena satu kalimat bermanfaat akan mampu menyadarkan seseorang dan bahkan menjadi sebab terciptanya kedamaian. Jangan pula sembrono ketika menulis, karena tak jarang kesalahan dalam pemilihan kata akan menimbulkan perdebatan, pembunuhan bahkan peperangan.

Tetapi, untuk menjadi seorang penulis yang berhasil tentu saja akan banyak kendala yang akan dihadapi. Kendala terbesar menurut saya sebagai seorang pemula adalah kesulitan tentang menentukan topik, apabila tulisan berupa artikel atau esay, dan kebingungan menciptakan sebuah alur yang menarik pembaca apabila tulisan tersebut berbentuk cerpen atau novel. Klasik memang, tapi terkadang kesulitan semacam ini sangat mengganggu karena hal semacam ini sering muncul ketika kita hendak menulis atau ketika kita sedang menulis. Permasalahan seperti ini sering menimpa penulis pemula seperti kita atau mungkin juga penulis ternama sekelas Buya Hamka atau Chairil Anwar. Hal ini disebabkan karena inspirasi dalam menulis itu terkadang datang begitu saja. Inspirasi tidak menunggu kita siap dan terkadang kesiapan kita dalam menulis tidak selamanya dibarengi dengan inspirasi.

Seorang penulis yang dapat menyelaraskan kemampuan dan bakatnya dalam menulis serta inspirasi yang ia tangkap melalui panca indranya akan mampu menciptakan sebuah karya sastra yang indah dimanapun ia berada. Berbeda dengan seorang penulis yang masih terbata-bata dalam mengeja kata atau masih meraba-raba dalam menyelaraskan apa yang ada di fikirannya dengan apa yang akan ia tuangkan dalam tulisannya, sehingga membentuk sebuah keserasian. Masalah demikian apabila diteruskan dan dibiarkan maka akan membawa kita pada titik jenuh yang membuat kita malas untuk menyelesaikan sebuah karya.

So, semua penulis pasti memiliki trik tersendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Tetapi biasanya ketika saya menghadapi permasalahan seperti ini, saya akan berhenti sejenak dan mencoba untuk tidak tegang. Kalau perlu bolehlah keluar sebentar untuk menghilangkan kebosanan, minum air putih dan berwudhu. Akan lebih baik kalau diikuti dengan salat sunnah dua rakaat untuk meletakkan sejenak segala kepayahan dan keletihan. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Quran sambil mendalami maknanya, tidak perlu banyak-banyak cukup satu atau dua lembar dan kemudian kembali menulis.

Yang terpenting jangan pernah takut untuk memulai menulis. Mengalir saja. Apa adanya. Terus belajar dan mengembangkan apa yang ada, serta tidak berhenti untuk selalu memberikan manfaat bagi sesama.

Semangat !!!

Share this

0 Comment to "Menulis (4.14): Ayo Menulis"

Post a Comment