Yasmina Aulia Hadi
Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Malang
SEJAK kecil, saya gemar menulis. Menulis apa saja, mulai dari cerpen, puisi, artikel, review hingga diary. Rasanya menyenangkan setiap kali menuangkan buah pikiran dan perasaan menjadi tulisan. Meski tidak bisa dikategorikan sebagai tulisan yang baik, setidaknya timbul perasaan lega dan senang bila menyelesaikan tulisan. Mengapa? Tidak mudah menulis tuntas.
Sejak awal menulis, saya memiliki kendala yang cukup menyesakkan: Sulit menyelesaikan tulisan. Kata-kata yang tadinya mengalir membentuk beberapa paragraf, mendadak terhenti. Ada saja penyebabnya. Malas melanjutkan atau kehilangan fokus. Tulisan yang tadinya mengarah pada permasalahan remaja menyimpang ke urusan cinta. Begitu dibaca ulang, hilang semangat untuk melanjutkannya.
Entah mengapa, setiap menulis (terutama cerpen) selalu terhenti. Ingin melanjutkannya, tetapi digempur rasa malas dan bosan? Ya, akhirnya say good bye dan menulis hal baru lagi. Namun, begitu membuat tulisan baru, ujung-ujungnya tetap mandek karena tidak bisa menemukan ending yang tepat.
Siklus tersebut bertahan cukup lama menjangkiti tulisan-tulisan saya. Akibatnya, banyak tulisan saya yang tidak bisa ‘dibaca’ karena tidak tuntas, tidak ada endingnya. Mau dilanjutkan, bingung melanjutkan ceritanya. Pikiran dan perasaan buntu. Ide cerita yang tadinya bermain di kepala, tiba-tiba menguap entah kemana. What should I do?
Saya pun berusaha menemukan solusinya dengan searching di google, membuka majalah literasi, dan bertanya-tanya kepada penulis senior. Ternyata tidak hanya saya saja yang mengalami kendala seperti itu. Banyak penulis yang awalnya tersandung permasalahan yang sama: tidak bisa menyelesaikan tulisan. Hmm, jadi saya tidak sendirian, kan?
Saya terus berikhtiar untuk menyudahi “batu sandungan” ini. Saya tidak ingin tulisan saya menjadi mubazir dan tidak bisa dinikmati pembaca hanya karena tulisan tersebut tidak selesai. Meski terasa berat, namun saya bertekad bahwa “jika saya menulis, entah itu cerpen atau artikel, harus menulisnya sampai selesai, dan tidak boleh lari ke tulisan selanjutnya.” Alhamdulillah, perlahan tetapi pasti, melalui proses yang cukup melelahkan, akhirnya saya bisa menuntaskan satu per satu tulisan hingga selesai. Rasanya senang sekali. Benarlah apa kata seorang penulis: “Lebih baik menyelesaikan satu tulisan, dari pada mempunyai banyak tulisan tetapi tidak dituntaskan.“ Terkait ini, saya ingin membagikan tips agar tulisan kita bisa fokus sampai selesai, yang saya kutip dari beberapa sumber.
Buat target
Ini langkah pertama yang sangat penting. Semua orang sukses di manapun, rata-rata mereka pernah merancang target untuk masa depannya. Jika saya tarik pada konteks tulis-menulis, maka membuat target sangat urgent untuk menentukan “kapan” saya selesai menggarap suatu tulisan. Seorang penulis senior menyarankan, minimal satu hari satu cerita. Membuat target juga memacu semangat saya untuk terus berkarya, sesulit apapun kendalanya.
Buat maping tentang arah cerita
Kendala utama tulisan yang tidak selesai-selesai, itu karena saya sudah kehilangan fokus cerita. Cerpen yang tadinya bercerita tentang A, malah berbelok ke B. Walhasil, jalan cerita jadi tidak nyambung lagi. Untuk mengatasi kendala ini, beberapa penulis senior menyarankan agar penulis pemula membuat maping (rancangan) tulisan terlebih dahulu. Misalnya, dengan menentukan plot di setiap alenianya. Ini sangat membantu untuk tetap fokus pada alur cerita
Publish ke teman-teman
Biasanya, kehilangan mood atau semangat untuk menulis, karena ada perasaan “aman” dan tidak dikejar oleh deadline. Jadi, begitu badmood menulis, dengan mudah saya menyudahi tulisan yang sedang dibuat. Tidak masalah juga kalau tulisan saya tidak selesai bukan?
Oleh karenanya, untuk menghilangkannya, saya menentukan deadline dari tulisan yang digarap. Cara mudahnya, pasang target dan publish ke teman-teman. Misalnya dengan memproklamirkan: “Minggu depan cerpen aku sudah selesai. Kalian bisa baca.“ Dengan demikian, saya dikejar target. Ada beban yang harus ditunaikan. Mau tidak mau tulisan yang dibuat harus selesai, karena teman-teman telah menunggu.
Tentukan waktu yang pas
Saya pernah membaca sebuah artikel penulis senior, bahwa menulis di saat yang tepat juga akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas tulisan. Artinya, ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk menulis yaitu ketika pikiran fresh, seperti sebelum subuh. Hal tersebut sudah saya praktikan, dan … berhasil. Dengan pikiran yang fresh, kata-kata yang bermain di kepala bisa tertuang dalam bentuk tulisan dengan lancar dan cepat.
Jaga semangat
Satu poin sangat penting dalam menulis, jaga semangat. Bagaimana caranya? Banyak. Bisa bergabung di komunitas penulis, berkumpul dengan teman-teman yang memiliki minat di bidang menulis, mengikuti workshop atau seminar tentang kepenulisan, dan membaca buku-buku motivasi menulis. Apapun yang mendorong saya untuk tetap menjaga semangat agar terus menulis, menulis dan menulis.
Salam semangat menulis!
0 Comment to "Menulis (4.15): Menulis Tuntas"
Post a Comment