Angi Faizta
Mahasiswa Jurusan Matematika UIN Malang
SUARA gemuruh mulai berdatangan, menandakan gelap malam telah sirna dan tergantikan dengan indahnya mentari. Pagi ini aku memulai mengasah kemampuan menulisku dengan melihat dan membaca ulang postinganku di facebook (FB). Catatan-catatan di FB dibaca ulang dan catatan yang belum diposting yang masih tersimpan. Ada memang tulisan yang membuatku heran, ternyata ada beberapa tulisan yang baik. Sekalipun begitu harus diakui, harus lebih giat menulis, sebab banyak tulisan yang jauh dari baik. Tulisan-tulisanku banyak yang layak untuk konsumsi pribadi. Biarlah sementara terpenjara di laptop.
Kenapa begitu? Kalau dipikir-pikir, tulisan-tulisanku memang pantas terpenjara di laptop karena aku masih terperangkap sikap malas, malas menulis, malas memperbaiki tulisan. Akibatnya, tidak istiqomah menulis. Ya, malas dan kemalasan menjadikan tulisan-tulisanku tersendat, tidak tuntas atau tidak diperbaiki. Jika tulisan-tulisan tersebut diselesaikan atau yang telah selesai diperbaiki tentu akan menjadi tulisan bagus yang layak untuk dipublikasikan. Tulisan yang layak untuk ranah publik.
Ketika menimbang-bimbang penyebab tulisan mandeg, aku teringat pesan ustad Erryk Kosbandhono beberapa tahun lalu: “Lanjutkan nduk tulisanmu, terus menulis dan menulis maka tulisanmu akan semakin bagus.” Duh, sudah mendapat nasehat bagus begitu, masih saja tidak istiqomah menulis.
Alhamdulillah, 4 September 2015, mendapat kabar Pak EWA ke Malang dan sharing menulis di UIN Malang. Tanpa berpikir panjang aku ikut. Mengikuti sharing menulis dengan Pak EWA menjadikan mood menulis berkibar-kibar. Apalagi, Pak EWA menantang menulis buku bersama tentang kesulitan menulis. Peserta bebas menulis apa saja dengan pandangan dari mana saja sesuai tema. Menulis bebas.
Ya, melalui sharing aku semakin menyadari kekuranganku dalam menulis, yaitu malas. Pasti sudah, yang mejadi biang keladi selama ini sekaligus tersangkanya adalah malas. Padahal, kalau malas dipelihara tidak akan pernah menulis, apalagi menjadi penulis. Sebab, orang malas itu akan mengasah alasan. Bila alasan sudah menjadi bagian prinsip, apa-apa ada saja alasannya. Hayo gempur alasan.
Ya, mulailah dari hal sederhana sebagaimana dikatakan pak EWA: ”Jangan menulis status yang tidak jelas di FB, tulislah yang bermakna.” Oh, ya kalau kita setiap hari menulis status dengan serius, bukankah kita menulis dengan serius? Dan, tulisan di status dikembangkan menjadi tulisan sebagai bagian buku sebagaimana dilakukan Pak Ewa.
Kalau diingat-ingat pesan Pak EWA, tulis saja yang kamu pikirkan dan rasakan, duh semangat menulis ke ubun-ubun, serasa mudah saja menulis. Masalahnya, tentu berbeda bagi mahasiswa matematika dan mahasiwa jurusan lain yang berkutat dengan angka-angka. Kalau mahasiwa jurusan sastra mungkin lebih dekat dengan dunia tulis-menulis. Tetapi, apa salahnya kalau dipancangkan semangat: bukan tidak mungkin mahasiswa yang berkutat dengan rumus-rumus tidak kalah hebat menulis.
Ya, bolehlah awalnya menulis hal-hal ringan sebagai pembiasaan. Bagaimanapun sebagai mahasiswa kita tidak akan pernah terbebas dari menulis, menulis hal serius. Misalnya, menulis skripsi. Kalau tidak menulis skripsi berarti kita tidak akan pernah menjadi sarjana. Apa mau? Tidak bukan. Karena itu mari latih diri menulis dengan menuangkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan. Katakanlah membiasakan menulis dalam bentuk curhat.
Yes, menulis itu ibarat curhat. Ya, curhat. Tidak sedikit beban pikiran atau perasaan, ide atau imajinasi yang ”bermain” di kepala kita yang terkadang mengganjal, menjadikan kita galau. Kegalauan tersebut manakala kita biarkan merongrong pikiran dan perasaan, bukan saja akan membeban pikiran dan perasaan, tetapi terlebih akan merusak pikiran dan perasaan kita. Memendam kegalauan berakibat pikiran kacau tidak karu-karuan, stres berat.
Mari segala perasaan senang, sedih, jengkel, patah hati dan seterusnya dijadikan sarana curhat melalui tulisan, tuangkan ke dalam tulisan.
Mudah-mudahan dengan menuliskan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan yang kemudian di-share menambah semangat dan memotivasi untuk menulis. Siapa tahu nantinya bisa menjadi penulis handal. Tidak ada yang tidak mungkin bukan? Syaratnya, ya itu tadi, dilakukan, dituliskan.
Mari berkarya guys, Salam menulis.
0 Comment to "Menulis (5.1): Menulis Itu Curhat, Guys"
Post a Comment