Wednesday, 7 December 2016

Menulis (5.2): Mengatasi Kesulitan Menulis

Aris Rahman Yusuf
Pembelajar Menulis

MENULIS adalah kegiatan menuangkan apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasa. Menulis bisa memberi banyak efek positif bagi siapa saja yang melakukannya. Diantaranya berbagi ilmu, me-manage emosi, membuat awet muda, menambah teman dan sebagai jalan pembuka pintu rezeki.
Banyak orang yang ingin jadi penulis, tetapi bingung untuk memulainya. Ada yang sudah memulai tetapi tiba-tiba mandek (berhenti) yang terkadang tidak tahu penyebabnya. Ada yang putus asa karena tulisannya tidak ada yang menang lomba dan tidak dimuat media meskipun berkali-kali mengirimkannya. Ada yang baru bisa menulis saat suasana sepi dan mood. Banyak lagi problem yang berakibat orang yang ingin menjadi penulis hanya sebatas ingin karena ketakutan-ketakutan, keputusasaan dan keluhan-keluhan lain.

Tulisan berikut memaparkan problema menulis dan cara mengatasinya berdasarkan pengalaman dan sumber lain (bacaan, grup menulis dan seminar kepenulisan). Semoga memberi semangat untuk saya dan pembaca tulisan ini.
Menulis pekerjaan mudah bagi sebagian orang. Karena dianggap mudah ada yang menyepelekan dan menganggap pekerjaan sia-sia. Sepadan dengan itu, ada yang membaca dan menulis sekadarnya. Padahal dengan membaca dan menulis banyak manfaat yang bisa didapat. Ada ungkapan: Menulislah maka kau akan dikenal dunia dan membacalah maka kau akan mengenal dunia. Itulah salah satu manfaat membaca dan menulis.

Meskipun menulis dianggap sebagai sesuatu yang mudah, tetapi saat dipraktikan tidak sedikit masalah yang datang tanpa diundang. Berikut paparan beberapa masalah menulis dan cara mengatasinya.
Tidak ada Ide

Pertanyaan yang sering ditanyakan teman-teman dalam suatu sesi tanya jawab di grup kepenulisan atau seminar adalah darimana datangnya ide? Ide menulis sebenarnya ada pada diri kita, banyak di sekitar kita. Bisa lewat bacaan, bisa lewat menonton, bisa lewat mendengar dan merasakan sesuatu. Tinggal, kita mau menuliskan yang mana.

Dari apa yang kita lihat, kita bisa menuliskan peristiwa-peristiwa yang kita lihat di kertas lalu pilih yang menurut kita mudah menuliskannya. Dari apa yang kita baca, kita bisa mengambil beberapa kosakata baru yang kita dapat dan bisa juga mengembangkan ide dari bacaan untuk menjadi sebuah tulisan. Dari apa yang kita dengar dan kita rasa mungkin bisa dituliskan dalam bentuk puisi.

Tidak Tahu Mau Menulis Apa
Saat pertama kali memulai menulis, tulislah apa saja yang ada dalam pikiran dalam bentuk tulisan yang kita suka. Jika suka menulis cerpen jadikan cerpen, suka menulis diary jadikan diary, suka menulis puisi jadikan puisi dan begitu seterusnya. Dengan begitu kita akan terhindar dari kebingungan tentang apa yang akan ditulis.
Bingung Menentukan Judul Tulisan

Judul tulisan itu penting untuk mengawali tulisan. Tapi saat kita bingung menentukan judul tulisan jangan langsung berhenti menulis dan jangan memusingkan diri dengan terus-terusan memikirkan judul sehingga nggak nulis-nulis. Untuk mensiasatinya, tuliskan dulu apa yang kita pikirkan sampai tulisan selesai. Judul bisa dihasilkan setelah tulisan jadi.

Tidak Pede dengan Tulisan Sendiri
Saat praktik menulis, terutama bagi yang pertama menulis biasanya sering menghapus apa yang ditulis, sehingga tulisan tidak selesai-selesai. Agar tulisan bisa selesai, biasakan menulis dulu sampai selesai baru mengedit kekurangan di tulisan kita. Jangan menulis sambil mengedit karena akan membuat kita tidak pernah puas dan tulisan tidak selesai-selesai.

Tidak Punya Alat Menulis (Laptop)
Jangan mengeluh saat tidak punya laptop untuk menulis. Keluhan ini akan membuat kita tidak pernah action untuk menulis. Menulis bisa kita lakukan di kertas memakai pensil atau pena.

Terkadang penulis senior dan penulis yang sudah punya laptop juga masih melakukan kegiatan ini. Solusi untuk problem yang ini, kita bisa menulis ke warnet. Sekarang warnet ada banyak di mana-mana. Jika tidak mempunyai uang atau warnet jauh dari tempat tinggal bisa diatasi dengan meminjam kepada teman yang memiliki laptop. Jika teman tidak mau meminjamkan, minta tolong dia untuk mengirimkan tulisan kita.

Saat awal-awal menulis dulu saya sering mengeluh karena tidak mempunyai laptop sehingga malas menulis. Setelah sadar kalau itu salah, saat mempunyai uang saya ke warnet untuk mengirimkan tulisan. Saat bokek, saya meminta bantuan teman untuk mengirimkan tulisan. Saya ketik tulisan via inbox FB dan saya beritahu email beserta kata sandinya. Kata sandi bisa diganti setelah teman memberi kabar tulisan sudah dikirim atau dibiarkan tetap sama seperti semula. Betapa senangnya saat dapat kabar tulisan dimuat di koran atau lolos even saat teman mengabari.

Tidak Tahu Mulai Menulis Dari Mana
Problem ini terjadi karena terlalu banyak mikir karena kita takut hasil tulisan kita jelek, karena kita terlalu kaku dengan peraturan menulis dalam hal EYD, tata bahasa dan sebagainya. EYD dan sebagainya itu penting namun saat pertama menulis jangan terlalu dipikirkan. Langsung menulis saja. Untuk memperbaiki bisa kita edit setelah selesai menulis. Jadi, kita bisa menulis sampai selesai.

Tidak Ada Mood Menulis
Saat malas menulis kita beralasan sedang tidak mood, harus menunggu mood untuk menulis. Untuk mengatasi hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan hobi kita sambil menulis. Mendengarkan musik sambil menulis merupakan kebiasaan kalau lagi bad mood atau menyanyi sembari menghilangkan stress. Dari mendengarkan lagu atau menyanyi bisa memunculkan inspirasi menulis. Opsi lain menurut Pak EWA, saat tidak mood menulis atau malas menulis tulislah tentang kenapa malas menulis. Bisa jadi tulisan, bukan?

Buntu di Tengah Jalan
Hal yang paling menyebalkan saat menulis salah satunya adalah buntu di tengah jalan. Sudah menulis panjang ternyata di tengah jalan buntu, sulit untuk menyelesaikannya. Berhentilah sejenak. Kebuntuan menulis bisa diatasi dengan berjalan-jalan sebentar, membaca buku atau browsing tentang materi yang ditulis, atau bisa juga dengan tidur sebentar, setelah bangun tidur dan badan segar dilanjutkan lagi menulisnya.

Tulisan Tidak Pernah Selesai
Saat menulis tetapi tidak pernah selesai alias banyak tulisan tapi cuma awalan saja, cuma sampai tengah sehingga memperbanyak tulisan di folder atasi dengan membuat target atau deadline. Bisa juga dengan memberi hadiah atau hukuman diri sendiri.Dengan demikian kita akan berusaha menulis sampai selesai karena tidak akan menghukum diri sendiri hehehe.

Semangat Naik Turun
Semangat bisa naik turun dalam menulis. Ada banyak hal penyebabnya, diantaranya karena tidak tahan kritik dan tidak ada penyemangat. Saat tulisan kita dikritik oleh pembaca, jadikan kritikan itu sebagai penyemangat. Ambil kritikan yang membangun dan buang kritik yang menjatuhkan. Sepedas-pedasnya kritikan akan membuat kita kenyang dan ketagihan jika diberi solusi untuk kebaikan tulisan kita.

Jika kritik tersebut cuma pedas saja tanpa ada penawar berupa solusi untuk perbaikan tulisan kita, biarkan kritikan tersebut jangan diambil hati. Bisa jadi orang yang mengkritik tersebut hanya pandai jualan cabai dan tidak pandai beraksi menulis.
Jika semangat turun karena tidak ada penyemangat atau pendukung kita menulis, carilah teman yang sama-sama hobi menulis dan membentuk komunitas menulis.

Minimal satu atau dua orang agar bisa saling menyemangati. Bisa juga mengikuti komunitas-komunitas menulis di media sosial atau ikut hadir di seminar-seminar kepenulisan. Jika tidak ada uang bisa mengikuti seminar-seminar yang tidak berbayar. Dengan mengikuti komunitas menulis dan seminar-seminar kepenulisan bisa jadi media silaturahim sehingga membuat kita banyak teman baru dan semangat akan cepat menyala saat terasa redup. Mengikuti komunitas menulis akan memelihara semangat menulis dan mengasah kemampuan menulis.

Tulisan Ditolak atau Tidak Lolos Lomba
Tulisan ditolak dan tidak lolos lomba adalah momok dalam menulis. Bagi yang tidak kuat menghadapi pasti akan berhenti menulis dan merasa tidak ada bakat dalam menulis. Hal ini pernah terjadi pada diri saya saat aktif-aktifnya mengikuti lomba menulis dan mengirimkan karya ke media tapi tidak pernah ada yang lolos.

Saya suka menulis sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) namun baru aktif mengikuti even menulis sejak mengenal facebook dan blog multiply sekitar tahun 2010. Banyak tulisan berupa FF (Flash Fiction), FTS (Flash True Story). Artikel dan ratusan puisi yang saya ikutkan lomba sedikit yang diterima dan lolos seleksi, hanya satu atau dua karya saja.

Hal tersebut pernah membuat saya down dan menganggap diri tidak berbakat menulis. Saya pernah curhat kepada novelis sejarah yang sering menerbitkan buku dan penyair yang sering mendapat penghargaan di negara tetangga. Saya mendapat pencerahan bahwa menulis adalah proses panjang, sesuatu yang harus dilakukan dengan konsisten dan jika saat ini belum menemukan jodoh tulisan jangan cengeng karena suatu saat tulisan akan menemukan jodoh pembacanya sendiri.

Setelah mendapat pencerahan dari dua orang tersebut membuat saya semangat untuk terus menulis. Meskipun masih ada banyak tulisan yang belum berjodoh, tetapi banyak juga yang menemukan jodoh di koran, di buku-buku antologi dan lomba menulis.

Kuncinya konsisten menulis, sabar dan yakin bahwa setiap tulisan ada jodohnya sendiri akan membuat kita terus semangat dalam menulis. Jika tulisan masih ditolak atau belum lolos lomba bisa diedit kembali dan dikirimkan di media yang sesuai. Ingat, setiap tulisan ada jodoh medianya sendiri. Setiap tulisan ada pembacanya.

Tulisan yang ditolak media dan tidak lolos lomba belum tentu tulisan buruk, bisa jadi karena tidak berjodoh dengan selera redaksi dan penerbit.
Akhir kata, mari menulis dan saling menyemangati menulis. Mari berbagi dan bersilaturahim dengan menulis.

Salam Menulis.

Share this

0 Comment to "Menulis (5.2): Mengatasi Kesulitan Menulis"

Post a Comment