Wednesday, 7 December 2016

Menulis (0.0): Kata Pengantar

SATU diantara kiat mengapa saya istiqamah menulis karena berusaha mematahkan belenggu-belenggu menulis seperti takut salah, takut tidak dihargai, dan takut-takut lainnya. Belenggu tersebut mengakibatkan kegagalan menulis, baik dalam arti tulisan tidak selesai maupun gagal sebagai penulis yang bisa buruk bagi semangat menulis. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Mematahkan belenggu-belenggu menulis, apa pun bentuknya. Kalau menjadi mindset, introspeksi dan menukarnya menjadi hal positif. Misalnya muncul perasaan rendah diri tersebab tulisan tidak sehebat tulisan penulis hebat, sadari diri berkemampuan terbatas, maafkan diri, posisikan diri sebagai pelajar, dan menulis dalam konteks belajar. Kalau datang dari luar diri, misalnya karena cemeeh orang lain, balikan sebagai tantangan agar lebih serius belajar, belajar dari tulisan.

Memposisikan diri sebagai pembelajar, menjadikan tidak malu kalau ada kesalahan. Kesalahan dipahami sebagai bentangan menuju kesuksesan, kesalahan bukan landasan untuk kesalahan berikutnya, tetapi tangga kesuksesan. Belajar dari kesalahan.
Pola berpikir demikian, membangun mindset positif, menjadikan pembelajar menulis tangguh. Ibarat pepatah, walaupun langit akan runtuh belajar menulis tetap dilakoni.

Buku ini memaparkan kiat-kiat ”menjinakkan” kegagalan menulis yang dalam balikannya menjadi hal positif untuk memicu dan memacu aktivitas menulis. Paparan bukan dari ranah teoritis, tetapi dari apa yang dipahami dalam lakuan yang terdeskripsi pada pilahan sajian tulisan.

Semoga bermanfaat adanya. Amin.

Banjarbaru, 17 Januari 2015.

Share this

0 Comment to "Menulis (0.0): Kata Pengantar"

Post a Comment