Tuesday, 6 December 2016

Menulis (3.7): Problematika Menulis

M. Dzikrullah
Mahasiswa Jurusan BSA UIN Malang

SETIAP orang memiliki potensi untuk menulis. Siapapun orang tersebut, dari mana asalnya, golongan atau apapun identitasnya, mempunyai potensi untuk menulis. Bahwa sesungguhnya, aktivitas menulis merupakan kegiatan yang bisa dilakukan dikalangan manapun. Menurut Syaikh Imam Ghazali: “Bila engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

Sekalipun setiap orang mempunyai potesi untuk menulis, manakala seseorang melakukan (menulis), dipastikan kesulitan-kesulitan datang tanpa diundang, datang dengan sendirinya. Kesulitan-kesulitan tersebut adakalanya menghantui sehingga ada orang yang merasa bahwa kegiatan menulis itu hal yang berat dan tidak mudah, sehingga membuat mereka enggan untuk menulis. Kesulitan yang sering dihadapi para pemula itu adalah tidak adanya mental percaya diri yang kuat. Dapat dimaklumi, ketidakpercayaan diri (pesimis) pastilah dirasakan setiap orang, apalagi oleh penulis pemula. Bahkan penulis senior pun akan merasakan hal tersebut, tetapi bagi para pemula sangat sulit dalam mengendalikan sikap pesimis tersebut.

Problematika lainya adalah kurangnya minat baca dan mengamati lingkungan sekitar. Kurangnya minat baca mengakibatkan seseorang tidak bisa menuangkan hal-hal baru dalam tulisannya atau dengan kata lain tidak ada perkembangan dari apa yang ditulisnya. Dan juga perlunya pengamatan terhadap lingkungan sekitar yang dapat kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Seorang penulis fiksi pasti tahu akan karakter teman-temannya atau lingkungan sekitarnya sehingga ia dapat menuangkan hasil pengamatannya tersebut dalam bentuk tulisan.
Masalah lain yang dialami penulis adalah tidak adanya semangat yang kuat dalam menulis, kita tahu banyak penulis ketika menulis pasti akan timbul perasaan tidak puas, sehingga membuat mereka terus bersemangat menulis dan menciptakan hal-hal baru karena semangatnya menulis.


Hal lain yang sering dialami penulis adalah apa yang akan ditulis. Banyak yang bingung akan menulis apa, apa yang harus ditulis, dari mana mendapat ide untuk menulis. Seorang pemula umumnya dibuai berbagai mimpi yang melangit sehingga belum juga genap satu bulan ia membuat cita-cita menjadi seorang penulis, ia sudah membuat berbagai macam keinginan, mulai dari bisa menulis ini ataupun menulis itu. Lalu ia membuat rencana untuk menulis ini-itu. Kenyataannya? Sekalipun telah berjam-jam didepan meja tulis, tidak satu pun tulisan yang dihasilkan, selain kata-kata berbunyi: Aku bingung harus menulis apa.

Maka dari itu sebagai modal dasar kita sebagai penulis adalah memiliki mental yang kuat dalam menulis. Tanpa didukung mental kepenulisan yang baik, seorang yang paling berbakat sekalipun, pasti akan menemui kegagalan, seperti halnya seorang seller (penjual) yang gagal dalam menjual barang dagangannya. Dalam dunia kepenulisan, mentalitas yang bagus tidak hanya penting bagi ketahanan seorang penulis. Mentalitas diperlukan ketika menemukan hambatan dan juga menunjukan kemampuan diri dalam menjalani aktivitas menulis sehingga menjadi penulis profesional.

Adapun hal sikap bagus yang harus dimiliki (calon) penulis antara lain, gemar belajar, sportif, memiliki kepribadian yang terbuka, memiliki ketertarikan terhadap banyak hal, jeli dan peka di dalam melihat sesuatu, tidak mudah berpuas diri, serta penuh penghargaan pada karya tulis siapa pun. Sikap tersebut akan mendukung dan membangun ketangguhan dalam menjalani aktivitas menulis.

Kita juga harus membiasakan diri untuk gemar membaca buku, karena dengan gemar membaca buku banyak hal-hal baru yang kita dapatkan, banyak kosakata yang kita dapatkan dan kemudian dapat dituangkan dalam tulisan sehingga tulisan menjadi kuat. Tidak kalah pentingnya adalah mempertajam pengamatan terhadap lingkungan agar kita dapat menangkap fenomena yang tentunya sangat berguna dalam mendayung aktivitas menulis.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar mendapat kenyamanan dalam menulis yakni memilih tempat untuk menulis. Memilih tempat untuk menulis merupakan strategi untuk memulai menulis. Carilah tempat yang dianggap nyaman. Akan lebih baik manakala mempunyai tempat khusus untuk menulis. Dengan begitu kita akan betah berlama-lama menulis. Jika di tempat yang paling pribadi sekalipun tidak merasa nyaman, tidak ada salahnya jika menulis ditempat-tempat umum. Misalnya, di halte bus, sambil menunggu bus, atau duduk santai di kamar tidur sembari menatap cermin. Yang penting mendapat tempat yang nyaman sehingga merasa nyaman untuk menulis.

Harap diingat, musik dapat membangkitkan minat untuk menulis. Oleh karena itu, usahakan memiliki meja khusus di perpustakaan, atau disudut rumah, misal teras rumah atau ditaman. Bisa juga dikedai kopi atau dibawah pohon ditempat yang membuat nyaman sehingga terdorong untuk menulis.

Memilih waktu atau menentukan kapan akan menulis bisa menjadi penunjang kreativitas menulis. Seorang penulis dapat menulis kapan saja dan dimana saja manakala dia mau. Baik di waktu pagi hari, siang, sore, malam bahkan hingga dini hari. Tidak masalah mana saja atau kapan saja, dalam sehari tersedia waktu dua puluh empat jam. Alokasikan waktu untuk menulis dan berkomitmen, bahwa selalu menyediakan waktu untuk menulis; sejam, dua jam, atau hanya setengah jam saja untuk menulis.

Bila komitmen tersebut tidak bisa dieksekusi, buatlah jadwal selama dua puluh empat jam tersebut dan tandailah pada jam-jam yang mana saja kamu harus menulis, lakukan mana yang lebih pas buatmu. Pendek kata, dari dua puluh empat jam yang tersedia setiap hari, sediakan alokasi waktu yang cukup untuk menulis.

Disamping banyak sekali hal-hal yang bisa kita mulai untuk menulis, menulis dongeng atau menuliskan kembali dongeng-dongeng yang pernah kita dengar adalah hal bagus dalam memasihkan menulis. Tidak kalah pentingnya menulis hal-hal biasa, maksudnya menulis hal-hal yang biasa kita jumpai dalam keseharian. Hal-hal tersebut dituangkan dalam tulisan. Misalnya, menulis kejadian yang berkesan, menulis pengalaman terindah, keburukan atau kekonyolan yang sangat berkesan.

Dari paparan tersebut dapat ditarik simpulan bahwa setiap orang itu memiliki potensi dan berkesempatan menulis, namun sebagian orang merasakan kesulitan dalam menulis. Agar tidak terjebak dalam keruwetan menulis perlu diperhatikan, bahwa sebelum menulis jangan lupa membangun mental yang kuat sebagai modal dasar dalam menulis. Kita harus membiasakan gemar membaca dan peka dalam mengamati lingkungan. Kita juga harus bisa memilih waktu dan tempat yang sesuai dengan keinginan kita agar proses menulis tidak ada hambatan.

Selanjutnya, kita dapat menulis sesuatu mulai dari hal sederhana, dari surat menyurat, dongeng masa kecil, hal yang biasa atau berkesan. Semoga kita semua dapat menulis karya yang bisa bermanfaat.

Menulis adalah perjuangan dan pengorbanan. Kebahagiaan penulis adalah ketika pembaca bahagia membaca apa yang ditulisnya.
 
Salam menulis.

Share this

0 Comment to "Menulis (3.7): Problematika Menulis"

Post a Comment