M. Dzikrullah
Mahasiswa Jurusan BSA UIN Malang
Mahasiswa Jurusan BSA UIN Malang
SETIAP orang memiliki potensi untuk menulis. Siapapun orang tersebut,
dari mana asalnya, golongan atau apapun identitasnya, mempunyai potensi
untuk menulis. Bahwa sesungguhnya, aktivitas menulis merupakan kegiatan
yang bisa dilakukan dikalangan manapun. Menurut Syaikh Imam Ghazali:
“Bila engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka
jadilah penulis.”
Sekalipun setiap orang mempunyai potesi untuk menulis, manakala
seseorang melakukan (menulis), dipastikan kesulitan-kesulitan datang
tanpa diundang, datang dengan sendirinya. Kesulitan-kesulitan tersebut
adakalanya menghantui sehingga ada orang yang merasa bahwa kegiatan
menulis itu hal yang berat dan tidak mudah, sehingga membuat mereka
enggan untuk menulis. Kesulitan yang sering dihadapi para pemula itu
adalah tidak adanya mental percaya diri yang kuat. Dapat dimaklumi,
ketidakpercayaan diri (pesimis) pastilah dirasakan setiap orang, apalagi
oleh penulis pemula. Bahkan penulis senior pun akan merasakan hal
tersebut, tetapi bagi para pemula sangat sulit dalam mengendalikan sikap
pesimis tersebut.
Problematika lainya adalah kurangnya minat baca dan mengamati
lingkungan sekitar. Kurangnya minat baca mengakibatkan seseorang tidak
bisa menuangkan hal-hal baru dalam tulisannya atau dengan kata lain
tidak ada perkembangan dari apa yang ditulisnya. Dan juga perlunya
pengamatan terhadap lingkungan sekitar yang dapat kita tuangkan dalam
bentuk tulisan. Seorang penulis fiksi pasti tahu akan karakter
teman-temannya atau lingkungan sekitarnya sehingga ia dapat menuangkan
hasil pengamatannya tersebut dalam bentuk tulisan.
Masalah lain yang dialami penulis adalah tidak adanya semangat yang
kuat dalam menulis, kita tahu banyak penulis ketika menulis pasti akan
timbul perasaan tidak puas, sehingga membuat mereka terus bersemangat
menulis dan menciptakan hal-hal baru karena semangatnya menulis.
Hal lain yang sering dialami penulis adalah apa yang akan ditulis.
Banyak yang bingung akan menulis apa, apa yang harus ditulis, dari mana
mendapat ide untuk menulis. Seorang pemula umumnya dibuai berbagai mimpi
yang melangit sehingga belum juga genap satu bulan ia membuat cita-cita
menjadi seorang penulis, ia sudah membuat berbagai macam keinginan,
mulai dari bisa menulis ini ataupun menulis itu. Lalu ia membuat rencana
untuk menulis ini-itu. Kenyataannya? Sekalipun telah berjam-jam didepan
meja tulis, tidak satu pun tulisan yang dihasilkan, selain kata-kata
berbunyi: Aku bingung harus menulis apa.
Maka dari itu sebagai modal dasar kita sebagai penulis adalah
memiliki mental yang kuat dalam menulis. Tanpa didukung mental
kepenulisan yang baik, seorang yang paling berbakat sekalipun, pasti
akan menemui kegagalan, seperti halnya seorang seller (penjual) yang
gagal dalam menjual barang dagangannya. Dalam dunia kepenulisan,
mentalitas yang bagus tidak hanya penting bagi ketahanan seorang
penulis. Mentalitas diperlukan ketika menemukan hambatan dan juga
menunjukan kemampuan diri dalam menjalani aktivitas menulis sehingga
menjadi penulis profesional.
Adapun hal sikap bagus yang harus dimiliki (calon) penulis antara
lain, gemar belajar, sportif, memiliki kepribadian yang terbuka,
memiliki ketertarikan terhadap banyak hal, jeli dan peka di dalam
melihat sesuatu, tidak mudah berpuas diri, serta penuh penghargaan pada
karya tulis siapa pun. Sikap tersebut akan mendukung dan membangun
ketangguhan dalam menjalani aktivitas menulis.
Kita juga harus membiasakan diri untuk gemar membaca buku, karena
dengan gemar membaca buku banyak hal-hal baru yang kita dapatkan, banyak
kosakata yang kita dapatkan dan kemudian dapat dituangkan dalam tulisan
sehingga tulisan menjadi kuat. Tidak kalah pentingnya adalah
mempertajam pengamatan terhadap lingkungan agar kita dapat menangkap
fenomena yang tentunya sangat berguna dalam mendayung aktivitas menulis.
Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar mendapat
kenyamanan dalam menulis yakni memilih tempat untuk menulis. Memilih
tempat untuk menulis merupakan strategi untuk memulai menulis. Carilah
tempat yang dianggap nyaman. Akan lebih baik manakala mempunyai tempat
khusus untuk menulis. Dengan begitu kita akan betah berlama-lama
menulis. Jika di tempat yang paling pribadi sekalipun tidak merasa
nyaman, tidak ada salahnya jika menulis ditempat-tempat umum. Misalnya,
di halte bus, sambil menunggu bus, atau duduk santai di kamar tidur
sembari menatap cermin. Yang penting mendapat tempat yang nyaman
sehingga merasa nyaman untuk menulis.
Harap diingat, musik dapat membangkitkan minat untuk menulis. Oleh
karena itu, usahakan memiliki meja khusus di perpustakaan, atau disudut
rumah, misal teras rumah atau ditaman. Bisa juga dikedai kopi atau
dibawah pohon ditempat yang membuat nyaman sehingga terdorong untuk
menulis.
Memilih waktu atau menentukan kapan akan menulis bisa menjadi
penunjang kreativitas menulis. Seorang penulis dapat menulis kapan saja
dan dimana saja manakala dia mau. Baik di waktu pagi hari, siang, sore,
malam bahkan hingga dini hari. Tidak masalah mana saja atau kapan saja,
dalam sehari tersedia waktu dua puluh empat jam. Alokasikan waktu untuk
menulis dan berkomitmen, bahwa selalu menyediakan waktu untuk menulis;
sejam, dua jam, atau hanya setengah jam saja untuk menulis.
Bila komitmen tersebut tidak bisa dieksekusi, buatlah jadwal selama
dua puluh empat jam tersebut dan tandailah pada jam-jam yang mana saja
kamu harus menulis, lakukan mana yang lebih pas buatmu. Pendek kata,
dari dua puluh empat jam yang tersedia setiap hari, sediakan alokasi
waktu yang cukup untuk menulis.
Disamping banyak sekali hal-hal yang bisa kita mulai untuk menulis,
menulis dongeng atau menuliskan kembali dongeng-dongeng yang pernah kita
dengar adalah hal bagus dalam memasihkan menulis. Tidak kalah
pentingnya menulis hal-hal biasa, maksudnya menulis hal-hal yang biasa
kita jumpai dalam keseharian. Hal-hal tersebut dituangkan dalam tulisan.
Misalnya, menulis kejadian yang berkesan, menulis pengalaman terindah,
keburukan atau kekonyolan yang sangat berkesan.
Dari paparan tersebut dapat ditarik simpulan bahwa setiap orang itu
memiliki potensi dan berkesempatan menulis, namun sebagian orang
merasakan kesulitan dalam menulis. Agar tidak terjebak dalam keruwetan
menulis perlu diperhatikan, bahwa sebelum menulis jangan lupa membangun
mental yang kuat sebagai modal dasar dalam menulis. Kita harus
membiasakan gemar membaca dan peka dalam mengamati lingkungan. Kita juga
harus bisa memilih waktu dan tempat yang sesuai dengan keinginan kita
agar proses menulis tidak ada hambatan.
Selanjutnya, kita dapat menulis sesuatu mulai dari hal sederhana,
dari surat menyurat, dongeng masa kecil, hal yang biasa atau berkesan.
Semoga kita semua dapat menulis karya yang bisa bermanfaat.
Menulis adalah perjuangan dan pengorbanan. Kebahagiaan penulis adalah ketika pembaca bahagia membaca apa yang ditulisnya.
Salam menulis.
0 Comment to "Menulis (3.7): Problematika Menulis"
Post a Comment