Fai Zahidah
Mahasiswa Jurusan PAI UIN Malang
A: HAI, nulis Yuk?
B: Hmm, lagi nggak mood nih. Nanti deh,
kalau mood-nya sudah bagus hehe.
A: Kapan mulai nulis?
B: Aduh, suasana hati lagi nggak pas nih (nyengir).
Cuplikan dialog di atas sepertinya tidak asing di kehidupan kita. Betul tidak? Dari banyak problema yang dihadapi penulis terutama penulis muda adalah ketidakstabilan suasana hati dalam menulis atau lebih akrab kita dengar dengan mood menulis. Apakah ini termasuk masalah yang serius? Tentu. Bagaimana tidak?
Bayangkan saja jika kita sebagai penulis harus menunggu suasana hati yang tepat untuk menulis. Yang terjadi adalah kita banyak diam dan menunggu mood yang tepat menghampiri. Dan bagaimana jika sang mood ini tersesat dan tak kunjung menghampiri? Akankah kita terus menunggu dan menunggu lalu membiarkan ide kita terbengkalai? Tentu tidak bukan? Maka apa yang harus kita lakukan?
Sering kita dengar tulisan yang baik adalah tulisan yang berasal dari hati. Artinya, kita menulis dengan apa yang dirasakan oleh hati. Dan perasaan yang ada dalam hati berawal dari kepekaan panca indra kita akan sekitar. Jadi, suasana hati memang menjadi hal yang penting dalam menulis.
Pembaca yang baik, suasana hati adalah keadaan yang kita ciptakan sendiri. Jika kita pikir kembali saat suasana hati yang buruk menghampiri maka kita bisa melihat apa yang menjadi sebab suasana hati itu buruk bukan? Misalkan, suatu hari kita harus menyelesaikan cerpen. Namun, hari itu laptop kita rusak secara tiba-tiba. Kebanyakan kita akan meruntuk, kenapa mesti rusak sekarang sih?
Hampir dapat dipastikan, bagi yang suka beralasan, kejadian tersebut serta merta merusak semangat menyelesaikan cerpen, menjadi alasan paling meyakinkan untuk tidak menyelesaikan cerpen yang waktunya sudah ditetapkan untuk selesai hari itu. Akhirnya kita batal menulis. Padahal saat itu kita bisa saja melupakan sejenak persoalan laptop rusak dan mengambil langkah untuk mencari pinjaman laptop atau pergi ke rental. Lebih solutif bukan?
Di lain kondisi, saat mood yang baik tidak kunjung datang kita bisa mensiasatinya dengan menciptakannya. Ya, menciptakan mood yang pas untuk menulis. Caranya bisa kita mulai dengan melakukan hal-hal yang kita sukai. Mendengarkan musik favorit misalnya sehingga mood menjadi.
Atau dengan minum teh sembari mengerjakan, memilih tempat yang nyaman, atau sekedar berwudhu, mandi dan menyegarkan diri terlebih dahulu. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menciptakan mood untuk menulis.
Selain dengan meracik suasana hati, masalah ini bisa dihindari dengan menetapkan deadline untuk setiap tulisan yang akan kita tulis. Deadline atau tenggat waktu ini penting untuk menjaga kedisiplinan kita dalam menulis. Mungkin bagi sebagian orang dengan adanya deadline menimbulkan rasa tertekan. Namun sejatinya tekanan itulah yang kemudian mendorong kita untuk menyelesaikan tulisan dengan segera karena saat seseorang mendapat tekanan, maka secara tidak sadar ia memiliki dan mengeluarkan energi lebih untuk menyelesaikannya.
Dalam menulis, kita tidak harus membatasi suasana hati kita. Suasana hati yang buruk tidak selamanya buruk. Jika kita jeli, suasana hati yang buruk juga bisa menjadi sebuah inspirasi atau ide menulis. Agar suasana hati senantiasa menghasilkan karya dan berdampak positif jangan lupa sematkan doa pada Yang Maha Membolak-balikkan hati semoga dengan menulis menjadi keberkahan tersendiri dan membuka lebih banyak pintu kebaikan.
Yang perlu kita ingat, jangan sampai tidak adanya mood yang baik menjadi alasan untuk menunda pekerjaan ya. Mood bukan alasan, tetapi suasana hati yang harus kita ciptakan.
Terakhir, jangan memikirkan hal-hal yang menghambat keberhasilan kita, fokuslah pada apa yang membuat kita tetap maju ke depan. Semoga bermanfaat.
Salam karya!
0 Comment to "Menulis (4.6): Meracik Suasana Hati"
Post a Comment