Hafidz Algristian
“Ajarilah anakmu sastra, agar anak pengecut menjadi pemberani.”
(Sayyidina Umar bin Khattab)
“FID, kamu lagi depresi?,” tanya kakak kelas saya suatu ketika.
“Ha? Enggak. Alhamdulillah. Kenapa, Kak?”
“Tulisan-tulisanmu depresif banget.”
“Iya kah?”
“Iya. Kalau bukan kamu yang depresi, setidaknya membuat pembaca blogmu jadi depresi.”
“Wah! Haha … ” saya tertawa getir.
Kakak kelas ini seorang dokter umum yang sama-sama mendalami psikiatri di sebuah kampus di Jawa Timur. Saya baru tahu ternyata beliau subscribe di blog pribadi saya. Hampir setiap muncul tulisan baru, kakak kelas saya ini menyengaja duduk di sebelah saya, lalu bertanya ini-itu. Siapa yang tidak senang bila tulisannya diapresiasi? Saya juga begitu. Sungguh senang. Gaya anak mudanya, banget. Banget pakai “z”. Bangetz. Atau, bingits. He … he … he.
Tetapi, saya mulai gerah ketika beliau mulai menyangkutpautkan tulisan dengan kehidupan pribadi saya. The ultimate question beliau pada saat itu adalah, “Kamu nggak apa-apa kan, Fid?” Jedeeerr … Dhuaarr … Pyaarr … Krompyangg..
Pertanyaan tersebut sangat simpel sebenarnya, tetapi sungguh membuat saya tertohok. Mungkin pertanyaan tersebut tidak bermaksud untuk menohok saya, tetapi coba bayangkan wajah orang yang tidak begitu akrab dengan kita, yang mencoba berempati kepada kita. Wajahnya kuyu, alisnya sayu, namun tatapan matanya tajam, setajam mata orang kepo. “Kamu tidak apa-apa, kan?,” tanya beliau serius. Padahal, saya memang tidak apa-apa, tidak kenapa-kenapa.
Tubuh saya lemas. Ibarat ada tombak yang ditusukkan tepat ke sendi-sendi tubuh. Lutut saya ngilu, retak, luluh lebur, tetapi tetap tidak mengalahkan sakitnya hati karena pertanyaan, yang menurut saya, tidak bertanggungjawab.
Ah, lebay.
Menulis semacam Self Fantasy
Saya membaca kembali tulisan-tulisan saya terdahulu. Saya yakin, tidak sedikit tulisan saya bersumber dari curhatan orang lain. Ya, mau bagaimana lagi, pekerjaan saya mengharuskan saya menyimak curhat orang lain dengan penuh empati. Rata-rata pasien yang datang untuk berobat rupanya sekaligus bercurhatria. Nasib dokter demikian rupanya.
Sekalipun demikian, tulisan-tulisan saya tentunya terinspirasi dari kisah saya pribadi. Sekalipun, sekali lagi, sekalipun sebagian. Ya, hanya sebagian. Sebab, menulis 1% sastra dan 99% curhat. Ya, itu menurut saya lho.
Anda tahu kisah budhe saya? Budhe saya, Joanne “Jo” Rowling yang Anda kenal sebagai J. K. Rowling, mulai menulis di selembar tissue. Iya, tissue! Bukan, bukan sedang di toilet. Tetapi budhe saya ini sedang di sebuah resto, dan sedang dalam keadaan depresi.
Saat itu budhe sedang menyesali kehidupannya; gagal dalam pernikahan, merasa gagal sebagai orang tua, dan seorang sarjana namun belum mapan dengan pekerjaannya. Pada masa-masa depresi itu, justru budhe saya berhasil membuat karakter Dementor!
Anda tahu Dementor? Dementor adalah makhluk jahat yang menyedot habis memori bahagia seseorang hingga tidak bersisa. Akibatnya, targetnya akan lemah, kehabisan tenaga, dan yang paling parah, kematian.
Menurut ilmu psikiatri, cara kerja Dementor ini menjelaskan bagaimana depresi bisa berakibat buruk pada seseorang. Dia seakan tidak lagi memiliki memori bahagia untuk diingat, hanya fokus pada peristiwa-peristiwa sedih. Dia kehilangan optimismenya, mudah lelah, dan yang paling parah, muncul ide-ide melukai diri hingga melakukan bunuh diri.
Menulis untuk Bermain Sudut Pandang
Di masa-masa itu, Rowling justru menjadi lebih produktif menulis. Ia banyak menghasilkan karakter jahat ketika sedang depresi, dan menghasilkan karakter baik ketika sedang jernih. Rowling mampu mengelola perasaan pribadinya, pikiran-pikiran negatifnya, menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dibaca orang lain.
Yang menarik, hasil olahannya ini menjadi sesuatu yang layak-jual. Penghasilannya dari menulis telah mengubah seluruh hidupnya; dari seorang yang depresif menjadi seorang yang inspiratif. Dengan kata lain, Rowling mampu mengelola inner-world-nya untuk membentuk outer-world-nya.
Kalau kita mengamati tulisan-tulisannya, Rowling akan mempersilakan karakter dalam tulisannya untuk menyelesaikan masalah, menemukan jalan keluarnya sendiri. Rowling akan berpikir dari sudut pandang mereka, merasakan apa yang mereka rasakan, bahkan menjajal peran mereka. Rowling pernah merasa sedih ketika ia harus “membunuh” karakter Dumbledore.
Rowling sedang bermain sudut pandang, ia menjadi lebih kaya. Meski ia sedang jatuh dalam depresi, ia mempersilakan dirinya untuk berpikir dari banyak sisi. Ia mempersilakan dirinya bebas merasakan perasaan yang bermacam-macam jenisnya, dan ia menjadi lebih dewasa. Ia tidak harus tenggelam dalam depresinya. Ia telah bebas dengan fantasinya.
Menulis sebagai Antidepresan
Apa yang ia tulis, mungkin bagian dari depresinya. Apa yang ia ceritakan, mungkin bagian dari kisah hidupnya. Apa yang ia tuturkan, mungkin tidak bermaksud untuk menginspirasi orang lain. Ia hanya bermaksud untuk membebaskan dirinya. Dan keberhasilannya itu, “membebaskan” orang lain juga. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Itulah hebatnya Rowling.
Mungkin sesekali Rowling mengeluh dalam tulisannya. Tetapi dia menyajikan solusi dari karakter dalam ceritanya. Pernah juga Rowling cemas dan gugup seperti Ron Weasley, tetapi pernah juga ia tangguh seperti Hermione Granger. Seperti yang Anda tahu, Hermione adalah karakterisasi Rowling saat ia berusia 11 tahun. Sungguh mengasyikkan menyimak karakter tokoh-tokoh ciptaan Rowling.
Bagi Rowling, menulis ibarat obat antidepresan. Ia tidak harus menolak perasaan dan pikiran negatifnya. Kitapun begitu. Tidak perlu memaksakan diri berpikir positif; kita bisa memberi makna pada kesedihan sebagai sesuatu yang konstruktif melalui tulisan-tulisan kita.
Seperti Rowling, sumber inspirasi terbaik justru dari apa yang kita alami. Dengan mendengarkan diri sendiri, maka akan lebih banyak dialog yang bisa kita tulis. Akan lebih banyak makna yang bisa kita ambil, dan lebih banyak ilmu yang bisa kita ikat. Seperti kata Sayyidina Ali, ikatlah ilmu dengan tulisan.
Tulis apa adanya, tulis sebebas-bebasnya, dan bebaskan dirimu!
Mari menulis membebaskan diri.
0 Comment to "Menulis (4.7): Menulis Sebagai Antidepresan"
Post a Comment