Tuesday, 6 December 2016

Menulis (2.1): Menulis Aktualisasi Diri

Halimi Zuhdy
Dosen Humaniora UIN Malang
“Kalau berkehendak menulis bangun mindset menulis melakukan. Jadikan diri, murid sekaligus guru menulis” - Ersis Warmansyah Abbas
ERSIS WARMANSYAH ABBAS (EWA) sedikit dari sekian orang yang rela berkorban untuk Indonesia dalam menerbitkan dan mengorbitkan, motivator sekaligus pelaku, penjual sekaligus pembeli, dan penjala sekaligus juragan, perihal menulis. EWA berusaha menjadikan Indonesia untuk menulis, menuliskan apa pun dengan tanpa beban, asalkan menulis. Banyak ide-ide menulis yang dijual mahal sekalipun tidak sedikit yang gagal, tetapi EWA menjadikan sebagai sedekah. Saya berterimakasih kepadanya karena telah menjaring menuju sampan kepenulisan atas ide-ide cerdasnya.

Indonesia Menulis, dalam bingkai lawatan ke berbagai pelosok negeri terus-menerus dilakukan, yang hebatnya, bukan dalam kerangka ”business” menjadi bukti bahwa EWA konsisten dengan dunianya, “Dunia Menulis.” EWA berambisi menebarkan virus menulis agar menyergap relung kalbu sebanyak mungkin orang, terutama anak-anak muda.
Dalam lawatan tersebut, EWA menulis catatan perjalanannya yang memastikan ia bukan hanya sekadar menjadi motivator  menulis, tetapi menjadikan orang sebagai aktor menulis, dan mengangkat mereka bukan karena mereka sudah menjadi ”artis” menulis, tetapi banyak yang dari nol dan langsung menerbitkan buku atau ter-cover dalam bukunya. Luar biasa bukan?

Mencermati para penulis atau para motivator menulis sangat antusias mengajak untuk menulis, tentu pasti bermuatan manfaat. Imam Suprayogo yang tidak pernah berpuasa menulis, EWA dengan kobaran api kata-katanya setiap hari, selalu mengajak menulis dan menulis, karena menulis akan membawa pada surga diri, hati, dan pikiran, yang juga memberikan surga kepada orang lain, baik surga imajinasi, ide, paradigma, motivasi, dan lainnya.

Saya jadi teringat tulisan Fatimah Mernissi: “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa.” Hanya orang yang sering menulis yang mampu merasakannya. Ketika dalam kondisi stres berat, kemudian ia menuangkan kekesalannya pada kertas niscaya seluruh gejolak yang ia hadapi akan terdampar dalam keranjang-keranjang sampah. Ia akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kesejukan karena ia mampu bercurhat dengan sebebas mungkin tanpa takut dan gelisah.

Stephen King penulis handal yang novelnya banyak terpajang di toko-toko buku, yang tidak hanya di tingkatan lokal namun mampu menggebrak dunia. Ia sangat menikmati dunia yang ia jalani, dunia merangkai kata, melukis kata dan bermain-main dengan kata. 35 novelnya yang ia tulis, membuktikan ia pecandu kata, yang tidak pernah bosan-bosannya untuk duduk lama hanya kerinduannya pada kata, kata ia rangkai dengan sabar, ia letakkan koma, tanda tanya, tanda seru, ia perindah dengan kalimat-kalimat yang sungguh sangat membangkitkan emosi pembaca. Tulisan-tulisannya mampu menggetarkan pembaca, membuat pembaca bercucuran air mata, kata-katanya memang indah dan mempesona.
Mengapa tulisannya mampu menggerakkan pembaca? Stephen King dalam bukunya On Writing, mengungkapkan bahwa: “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.” Selanjutnya ia menulis: “Dalam proses menulis yang sejati, seorang penulis menjauh dan berpisah dengan dunia yang ada di sekitarnya untuk selanjutnya ia menciptakan dunianya sendiri. Untuk mencapainya, seorang penulis harus terlebih dahulu menjadi dirinya sendiri dengan memegang teguh disiplin, kerja keras, kejujuran dan ketulusan.
Dengan semangat menulis yang luar biasa itulah, King dapat menciptakan kata-kata tidak kaku dan membosankan, karena seluruh potensi ia kerahkan untuk mengolahnya. Dia menjadi dirinya sendiri, mempercayai dirinya sendiri, ia libatkan seluruh perasaan dan emosinya dalam menulis. Tulisan-tulisannya tidaklah kering, seluruh nafas dan jiwanya ia kerahkan untuk merangkai kata seindah mungkin.

Ia menulis tidak pernah kenal mood, dia tidak menunggu kapan datangnya ide karena hidupnya adalah ide, ia tidak menunggu setelah selesai merenung, karena hidupnya adalah renungan-renungan yang selalu menjadi inspirasi. Baginya, kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu, kita sendirilah yang menciptakannya. Katanya: “Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri.” Yang diungkapkan itu, bukanlah tidak beralasan, karena ia sendiri yang menjalaninya.

Dia menulis pukul 08.00-14.00 setiap hari sepanjang tahun tanpa libur, bahkan di hari ulang tahunnya sendiri. Sebelum menulis ia mengunci pintu kamarnya, menutup gorden jendela, mematikan telepon, dan melarang siapapun menemuinya, bahkan istri dan anak-anaknya sekalipun. Seandainya ia menunggu dalam keadaan mood dan datangnya inspirasi mungkin ia tidak akan menulis secara terus menerus setiap hari dengan waktu dan jam yang sama. “Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu kita sendirilah yang menciptakannya,” katanya.

Dari mana King mendapatkan inspirasi dalam penulisannya sehingga mampu menulis secara terus-menerus? Selain dari pengalamannya yang penuh dengan lika-liku itu, ia banyak membaca dan menulis, dan itu yang ditekankan oleh King, mengapa ia mampu menulis, karena ia banyak membaca. Menurutnya membaca merupakan proses belajar dalam dua hal: pertama, menyerap pengetahuan yang terkandung dalam buku-buku yang kita baca untuk dijadikan perbendaharaan sumber tulisan itu sendiri. Kedua, melakukan penilaian terhadap sebuah bacaan itu baik, maka ada dorongan membuat karya sebaik itu atau yang lebih baik lagi. Ketika kita berhadapan dengan bacaan yang jelek, kita juga terdorong untuk menghindari apa yang telah dilakukan oleh penulisnya dan mendapatkan semacam sugesti bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik darinya. Ia menamai proses membaca ini sebagai pusat kreatif kehidupan penulis.
King tidak serta-merta menjadi penulis handal seperti sekarang, ia juga melalui proses yang panjang, ia tidak pernah lelah untuk menyerap kehidupannya itu menjadi kalimat-kalimat dalam tulisannya, ia gambarkan kehidupannya itu dalam rangkaian kata-kata, kemudian ia perkaya dengan membaca, karena membaca menurutnya adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis. Menurut Hernowo: “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik.” Ia membaca dengan kreatif dan aktif sehingga ia mampu menulis juga dengan kreatif dan progresif.
Menurutnya orang yang tidak kreatif dalam membaca dan tidak mampu menangkap maknanya dengan baik, maka tulisannya juga tidak akan baik.

Untuk menjadi penulis, tidaklah sulit yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya. King tidak percaya bahwa penulis bisa dibuat, baik oleh keadaan atau oleh keinginannya sendiri. Ia menjadi penulis, karena ada keinginan untuk menulis, dan ia lakukan setiap ada kesempatan untuk menulis, menulis apa saja, saat tangannya gatal dan inspirasinya mau tumpah.

Hentakkan Diri Anda!

Share this

0 Comment to "Menulis (2.1): Menulis Aktualisasi Diri"

Post a Comment