Tuesday, 6 December 2016

Menulis (2.2) : Pekerjaan Tangan Bukan Mulut

Erryk Kosbandhono
Dosen PPBA UIN Malang

KETIKA hendak melakukan aktivitas baru, biasanya orang merasa khawatir. Banyak hal yang menghantui pikirannya, yang mestinya tidak perlu, misalnya rasa takut dikritik, takut salah, takut dicemooh dan sebagainya. Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut lumrah terjadi. Hampir semua kita, merasakan kekhawatiran-kekhawatiran itu tatkala akan berbuat sesuatu yang baru. Akan tetapi, setelah mencoba, berlatih dan terbiasa, akhirnya kekhawatiran-kekhawatiran tersebut hilang sedikit demi sedikit.

Keadaan seperti ini, kita dapati pada perilaku seorang anak kecil yang belajar berjalan. Ada yang berani mencoba berjalan walaupun harus jatuh, jatuh, dan jatuh lagi. Ada yang kejedot pintu, terhantuk batu dan sebagainya. Tidak perduli bibir terluka atau kepala benjol. Anak tipe ini biasanya memiliki kemauan yang keras untuk segera bisa berjalan.

Anak tipe ini akan lebih cepat bisa berjalan dan berlari tanpa rasa takut. Tetapi ada pula anak yang bertipe sebaliknya, takut dan malas berjalan. Dia lebih senang merangkak atau mengesot. Anak yang suka merangkak atau ngesot ini biasanya lebih lama untuk bisa berjalannya.

Dalam hidup ini, kadang kita memiliki banyak keinginan dan mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan. Mimpi-mimpi itu ada yang bersifat realistis karena bisa dicapai walaupun harus dengan usaha yang keras, tetapi ada pula yang sulit untuk diwujudkan bahkan mustahil karena di luar jangkauan kemampuan manusia.
Tidak semua mimpi kita dapat kita beli, kata Iwan Fals dalam lagunya yang populer. Sebenarnya bukannya mimpi-mimpi itu tidak dapat terbeli, tetapi mungkin kita belum memiliki modal yang cukup untuk mewujudkannya. Sesuatu yang diimpikan manusia lima ratus tahun yang lalu, bisa jadi saat ini menjadi kenyataan, bahkan telah menjadi hal remeh.

Apabila kamu membaca buku-buku karya orang-orang yang senang bermimpi pada lima ratus tahun yang lalu, betapa mereka memimpikan adanya lampu-lampu yang terang, yang bisa menerangi tanpa minyak tanah atau minyak-minyak yang lain. Sejak ditemukannya tenaga listrik, impian mereka menjadi kenyataan yang sangat mudah ditemui di mana-mana.

Kalau dulu, sebelum ditemukan jaringan telpon, untuk berkomunikasi jarak jauh, manusia harus mengirim surat melalui jalur darat atau laut. Mereka harus menghabiskan waktu berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu hanya untuk menyampaikan satu pesan kepada orang lain. Karena itu, mereka memimpikan adanya alat komunikasi yang dapat mentransfer berita mereka dengan cepat.
Awalnya mereka memasang tali yang panjang, yang dihubungkan dengan tutup sabun atau benda-benda lainnya, lalu mereka bisa mentransfer suara agak jauh meskipun tidak begitu jelas. Mereka terus bermimpi untuk menemukan alat canggih yang dapat mentransfer berita-berita mereka dari satu tempat ke tempat lain.
Saat ini telah ditemukan alat-alat komunikasi yang super canggih. Dengan bantuan satelit, dunia yang luas ini, bagaikan sepetak tanah kecil yang bisa dikitari dalam jangka waktu satu hingga dua detik. Internet, handphone dan sebagainya sangat mempermudah komunikasi manusia, sehingga penyebaran berita itu bisa dilakukan dengan begitu cepat. Tidak hanya dalam hitungan hari atau jam, tetapi dalam hitungan detik dan bahkan lebih kecil dari detik.

Segala sesuatu yang terjadi saat ini, pada dasarnya adalah impian-impian manusia pada masa lalu. Karena itu, lambungkan impianmu setinggi langit dan tuangkan impianmu itu dalam tulisan, sehingga orang lain tahu apa yang kau mau. Ringkasnya mari kita fokuskan bagaimana mengatasi kesulitan menulis?
Untuk menjadi profesional di satu bidang, sunnatullah-nya adalah mampu mengatasi berbagai hambatan. Begitu juga untuk menjadi seorang penulis. Maunya sih, ketika kita memulai menjadi Penulis, tangan langsung lancar mengetik, beratus-ratus kalimat apik berebut keluar dari otak, dan begitu dikirim ke media, mereka langsung memuatnya tanpa ba bi bu lagi.

Tetapi, coba bertanya kepada penulis yang berhasil meraih beberapa penghargaan, apakah awalnya mereka semua itu mudah menulis? Jawabannya adalah: Tidak. Percayalah, hambatan yang mereka rasakan dan mereka alami, sama dengan hambatan kita alami. Jadi, jangan takut terhadap hambatan. Hambatan adalah jembatan yang harus kita lewati untuk berhasil dalam bidang apapun. Paling tidak, untuk menjadi ‘Penulis Pemula’, ada beberapa hambatan menulis yang kita bagi ke hambatan internal dan hambatan eksternal.
Hambatan Internal

Hambatan internal dapat kita bagi kepada banyak hal, diantaranya:
Pertama, Niat dan Tekad. Sandaran kita, setiap amal akan dimudahkan dan berpahala kalau niatnya benar dan ikhlas. Menjadi penulis, berarti kita mempunyai peluang besar untuk beribadah. Kenapa? Karena jika tulisan kita dibaca oleh banyak orang, dan mereka tergugah untuk berbuat baik, maka kita termasuk orang yang menyebarkan kebaikan.

Niat penting untuk menjadi penulis. Terkadang, niat ini terkotori dengan lebih banyaknya harapan honor atau royalti daripada niat untuk menyebarkan kebaikan. Akibatnya, jika honor tidak jelas atau nominalnya kecil, kita menjadi enggan menulis. Namun, niat saja belum cukup. Niat harus diiringi dengan tekad yang kuat. Berapa banyak orang yang mempunyai niat mulia, tapi tidak jadi beramal karena kurang kuat tekadnya.

Kedua, Takut. Untuk memulai menulis menjadi momok penulis pemula. Perasaan takut salah, takut dihina, takut karyanya dikembalikan, atau takut tidak bisa sebagus karya berakibat kebimbangan, terus menulis atau tidak? Kalau sudah demikian, bersiaplah untuk jalan di tempat, alias tidak maju-maju.
Rasa takut muncul karena ada bahaya mengancam. Manusia tidak suka terancam. Daripada menghadapi situasi tersebut, lebih baik menghindar. Padahal ancaman dapat membuat kita antisipatif dan berani. Gagal itu soal biasa. Kita tidak perlu takut gagal. Keterampilan berkembang melalui try dan error, berkali-kali. Begitu juga menulis.

Ketiga, Tidak PeDe
Tidak percaya diri (PD) untuk bisa menulis merupakan pertanda belum yakin kemampuan diri. Mungkin, kita tidak yakin dengan ide yang dituangkan, gaya penulisan, atau bahwa apa yang kita tulis tidak penting bagi pembaca. Kita sering dihinggapi rasa tidak yakin untuk menampilkan diri pada khalayak umum.
Setiap orang pasti punya keunikan menulis tersendiri. Percayalah, keunikan pada gaya penulisan kita, bisa menampilkan hal-hal yang berguna bagi orang lain. Semua keberhasilan selalu melalui proses. Jadi, mulailah menulis sekarang juga. Keyakinan akan diri sendiri, sedikit demi sedikit akan punya pengaruh besar pada kelancaran dan keluwesan kita menyusun kalimat demi kalimat.

Keempat, Malas
Sebenarnya, tidak ada yang menghalangi orang untuk maju, selain malas. Malas menjadi faktor utama ketidak-produktifan seseorang. Di era globalisasi ini, tidak ada tempat untuk orang malas. Keberhasilan hanya untuk orang yang produktif dan pekerja keras.

Menjadi penulis harus membuang rasa malas. Malas memulai, malas cari ide, malas mikir, malas mencari data, malas bertanya dan malas-malas lainnya. Kalau malas dipelihara, sampai kapanpun tidak ada tulisan yang bisa dihasikan. Kalaupun ada, mutunya jauh dari yang diharapkan.

Seseorang yang malas tidak memiliki motivasi yang kuat, atau mempunyai persepsi negatif terhadap sesuatu. Persepsi tentang menulis harus dibangun positif agar termotivasi. Malas diubah dengan melawannya.
Kelima, Tidak Mau Belajar

Sesungguhnya untuk menjadi seorang penulis tidak bergantung pada bakat. Orang yang dikategorikan berbakat sekalipun kalau dia tidak mengasah bakatnya, tidak banyak membaca, tidak mau mempelajari karya penulis-penulis senior, tidak mau memulai menulis, dan tidak mau belajar mengamati lingkungan sekitarnya, tetap saja akan menjadi orang yang tidak berbakat bahkan lebih jelek. Sebaliknya, orang yang berkemauan keras belajar lebih cenderung mampu merealisasikan apa yang diinginkannya. Kuncinya, mau belajar dan bekerja keras.

Keenam, Suka Menunda-nunda
Mulailah sekarang juga! Kalimat tersebut bisa menjadi motto yang bagus buat Si Penunda. Menunda menulis bisa jadi hambatan besar bagi seorang Penulis. Seringkali ide yang didapat tidak langsung dicatat, atau pada saat imajinasi untuk bahan tulisan sudah bermunculan, tidak segera ditulis atau mengetiknya. Yang lebih disayangkan adalah alasan sibuk, sibuk ini dan itu. Atau, ide-ide sudah banyak mengisi buku catatan hanya tertumpuk begitu saja, sehingga menjadi basi dan kehilangan makna.

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan tentu akan berakibat buruk, bahkan fatal. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Kalau kita merasa mampu untuk menulis cerpen yang baru dibaca, maka jangan tunda-tunda keinginan itu. Inspirasi yang dari manapun jangan diabaikan, karena kalau sudah hilang, kemungkinan besar sulit memanggilnya kembali, bahkan lupa sama sekali.
Ketujuh, Tergantung Mood

Menulis tentu saja lebih enak ketika suasana hati atau mood sedang baik, senang dan otak penuh inspirasi. Banyak penulis pemula yang berdalih sulit memulai menulis karena tidak mood. Akibatnya, tidak ada satu kalimat pun yang tertuang. Benarkah begitu? Mengapa Si Mood yang disalahkan? Apakah aktivitas menulis ditentukan oleh mood?

Seorang Penulis yang baik, tidak boleh bergantung oleh rasa kepingin atau tidak, dalam aktivitas menulisnya. Menulis sebagai kebutuhan yang sangat perlu tidak tergantung suasana hati. Suasana hati harus terjaga terus untuk menulis. Penulis tidak disetir oleh mood, tetapi kitalah yang menyetel mood sesuai yang kita kehendaki.

Ersis Warmansyah Abbas dalam motto terkenalnya:“Tulis apa yang ada dipikiran. Jangan memikirkan apa yang kau tulis!.” Pesannya, kita membutuhkan pembiasaan. Menulis selembar dua lembar sehari, tidak mengapa. Yang penting, istiqomah menulis setiap hari.

Hambatan Eksternal
Hambatan eksternal dapat kita bagi kepada banyak hal, diantaranya:

Pertama, Sarana dan Prasarana
Banyak yang berpendapat dan berpikiran bahwa ketika sarana dan prasarana memadai, maka semua bisa lancar dan sukses besar. Namun, pendapat itu kurang benar. Ada juga yang berpendapat, pasti gagal atau tidak bisa menjadi sukses, apabila sarana dan prasarana tidak mendukung. Itu juga tidak benar.
Ajip Rosidi, sastrawan kebanggaan Indonesia, pernah mengajar di Jepang selama 22 tahun. Ternyata, semasa kecil beliau tinggal di pedesaan yang terpencil yang sangat minim dengan bahan bacaan dan hidup sangat sederhana.

Tetapi, bermodalkan semangat membacanya menggebu, membuatnya getol mencari buku kemana dan dimanapun, bahkan koran-koran bekas pun, beliau baca. Beliau menjadi orang besar tanpa bergantung pada fasilitas.
Jika tidak punya laptop atau komputer, kita bisa menggunakan mesin tik atau menulis dengan pena diatas kertas. Dan lain sebagainya. Yang terpenting, semangat untuk menulis tidak bergantung kepada sarana dan prasarana yang serba ‘wah’.

Kedua, Pujian dan Kritikan
Dalam kadar tertentu pujian, itu diperlukan untuk memotivasi agar lebih baik lagi, agar bisa menjadi teladan bagi yang lain. Tetapi kalau berlebihan, bisa membuat penerimanya menepuk dada dan sombong. Apalagi kalau para pemuji memiliki tendensi di balik pujiannya itu, pujian itu tidak akan ada manfaatnya. Kalau kita menjumpai seseorang yang berprestasi, kita layak memuji sepantasnya.

Saya ambil contoh seorang pesepakbola yang tampil gemilang membela klubnya dengan mengemas banyak gol. Publik memujinya setinggi langit, apalagi ditunjang oleh media yang mengeksposnya setiap hari. Lalu apa yang terjadi? Karena tidak kuat menahan pujian, pesepakbola itu besar kepala, pongah dan sombong. Dia mulai lalai berlatih, dan bahkan mulai meremehkan pelatih yang membimbingnya. Akibatnya, pemain tersebut menurun kualitas dan prestasinya.

Sebaliknya kalau ada kekurangan, kita berhak untuk mengritik demi kebaikan, bukan kritik untuk menjatuhkan. Pujian dan kritikan dua hal penting untuk membangun semangat menuju kemajuan, tetapi keduanya harus dilakukan dengan cara yang elegan, jujur dan ikhlas. Sebaiknya, kalau kita mengkritik, bisa disampaikan langsung kepada yang bersangkutan, tentu dengan cara yang baik, empat mata, bukan dalam forum terbuka yang terkesan menelanjangi. Kritik atau masukan yang membangun disampaikan langsung kepada yang bersangkutan, kalau disampaikan dengan niat tulus, akan diterima dengan baik dan lapang dada oleh seseorang yang dikritik.

Demikian kiat-kiat saya dalam menghadapi kesulitan menulis. Yaps, “Berhentilah untuk beralasan tidak bisa menulis dengan mulutmu, karena menulis itu bukan pekerjaan mulut tetapi pekerjaan tangan”.

Sekian. Selamat Menulis.

Share this

0 Comment to "Menulis (2.2) : Pekerjaan Tangan Bukan Mulut"

Post a Comment