Ersis Warmansyah Abbas
Kegagalan bukan berarti kematian. Gagal dan kegagalan adalah cambuk pembelajaran. Gagal menulis? Hanyalah secuil dari firkah kehidupan, ibarat sebutir pasir di pantai.
SABAR. Pernah mengalami kegagalan? Atau, merasa gagal? Pastilah. Apa yang kita inginkan tidak selalu teruwujud, apa yang dilakukan tidak selalu berhasil, apa yang dicita-citakan tidak selamanya menjadi. Gagal dan kegagalan bagian kehidupan. Kiranya lebih bermanfaat bukan mendiskusikan kegagalan, tetapi bagaimana memahami kegagalan dan menjadikannya sebagai cambuk untuk tidak gagal. Ya, belajar dari kegagalan.
Bisa jadi, menulis bagi sebagian orang ‘berdarah-darah’. Teori sudah dipelajari, pengetahuan tidak kurang-kurang, pengalaman lebih dari cukup, gagasan bergelora di ranah otak, aneka pelatihan menulis pun diikuti, tetapi begitu dituliskan, mandek. Mula-mula ejakulasi dini menulis, kemudian impoten menulis. Gagal total menulis.
Menulis itu ibarat menjalani kehidupan. Ersis pernah gagal? Bukan pernah lagi. Sering. Gagal dalam kehidupan, juga ketika menulis. Ketika remaja, saya mengimpikan menjadi Sekretaris Jenderal PBB. Berhasil? Gagal total. Yang pasti, setelah kuliah saya mengukur diri.
Begitu pula menulis. Apa yang saya perdapat saat ini merupakan timbunan kegagalan. Hanya saja saya tidak menangisinya, tetapi menjadikan sebagai pembelajaran. Misal, salah menulis kata, diberi tahu teman atau dicaci orang, diperbaiki, dan tidak mengulangi kesalahan.
Tidak menyesali kesalahan dan kegagalan. kegagalan media untuk memperbaiki tulisan. Sungguh, pikiran dan perasaan dijaga agar tidak ditelan ”rasa” bersalah dan gagal. Hidup ini sarat masalah, janganlah menambah-nambah masalah dengan memuja-muja kesalahan dan kegagalan, jangan dijadikan hantu dan jangan sampai menghantui. Harap dicatat, mereka yang menggunakan kemampuan pikir dan emosi untuk menangisi ‘kegagalan’ mendera dirinya sendiri. Di atas kekalahan dibangun berhala kekalahan yang lebih mematikan. Rugi.
Oh ya, segagal-gagalnya Sampeyan menulis, belajar menulis, belum ‘gagal total’. Dunia belum kiamat, Belanda masih jauh. Dengan kata lain, kegagalan lebih baik dijadikan injakan untuk belajar, belajar, dan terus belajar.
Terima kasih Ya Rabb. Kau memberi pembelajaran melalui kegagalan. Lebih dahsyat, kegagalan bukanlah berarti mati, apalagi kalau kegagalan yang ’belum pasti’. Gagal dan kegagalan adalah cambuk pembelajaran.
Lebih dahsyat, menyadari diri sebagai lumbung kekurangan, lubuk kebodohan, gudang keminusan, dan karena itu belajar menjadi kunci kehidupan. Manakala mindset terpola sebagai manusia hebat, pintu belajar tertutup sudah. Harus dihindari.
Rasulullah bersabda: Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat. Tentu hadis Rasulullah bukan untuk dihapal, melainkan untuk dipraktekkan. Gagal menulis? Gagal dan kegagalan dalam menulis hanyalah secuil dari firkah kehidupan, ibarat sebutir pasir di pantai. Gagal dan kegagalan bukanlah pembunuh permanen.
Lagi pula, dengan belajar dari kegagalan menulis, menjadikan kegagalan menulis sebagai modal, Insya Allah hasilnya akan amat dahsyat.
Ya, manakala kita cerdas memaknai gagal dan kegagalan, simpulan patennya: gagal dan kegagalan adalah modal bagi sukses dan kesuksesan. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.1): Salah, Gagal? Apa Sih Salahnya Salah?"
Post a Comment