Ersis Warmansyah Abbas
Mungkinkah kesalahan, kegagalan, atau apa pun istilahnya ‘dijinakkan’. Salah? Gagal? Kegagalan jalan menuju kesuksesan manakala mampu meraih pelajarannya.
ASAP. Tidak diragukan lagi semua orang ingin sukses. Terlepas, pemaknaan dan kriteria sukses sesuai persepsi masing-masing. Yang pasti, sejak kecil, pada mindset ditanamkan memancang sukses dan kesuksesan kehidupan sebagai cita-cita. Saking menguasai pikiran, kehendak sukses menafikan realita, ketidaksuksesan. Padahal, ketidaksuksesan bagian kesuksesan.
Pemahamannya, belajar atau melakukan apa saja dapat dipastikan melalui proses. Pada proses tersebut belajar menjadi sangat menentukan. Pada proses belajar tersebutlah sebenarnya kesuksesan dibangun dan ketidaksuksesan menjadi penguat kesuksesan. Bukan musuh atau yang harus dimusuhi. Ya, kesuksesan dengan memahami kegagalan.
Ada orang mengibaratkan (belajar) menulis ibarat belajar mengendarai sepeda. Jatuh. Lakukan. Jatuh dan luka karena terjatuh. Lakukan. Dari proses tersebut mendapat keseimbangan mengendarai sepeda, bahkan pada tingkat mahir mampu bermanuver. Setelah mahir, jatuh, jatuh, dan jatuh, menjadi kenangan belajar belaka. Dari bangun rangkaian kegagalan keterampilan diperdapat alias kesuksesan mengendarai sepeda.
Saya mengibaratkan bak belajar menyetir mobil. Pikiran, perasaan, psikomotorik, penglihatan, pendengaran, konsentrasi; potensi diri dimanfaatkan. Jangan menyetir bila emosi tidak stabil, apalagi pikiran terganggu. Sekalipun teori dikuasai; duduk di bangku setir, tangan di setir, kaki kanan menginjak pedal gas, kaki kiri menginjak kopling.
Eit, begitu kunci stater diputar, mesin mobil meraung gigi satu dimasukkan mobil melompat dan mesinnya mati. Pada tindak menyetir bukan pengetahuan saja yang penting.
Ada koordinasi pikiran, perasaan, dan segala hal. Membangun kemampuan melakukan. Keterampilan dibangun atas kegagalan, atau dari pengalaman.
Kalau pemahamannya demikian, tidak ada ruang mengutuk kegagalan. Hari ini membuat kalimat yang tidak bagus, ‘pelajari’ dan buat kalimat baru lebih baik. Hari ini pilihan diksinya lucu, besok jangan lagi. Intinya, dari apa yang ditulis belajar untuk lebih baik pada menulis berikutnya.
Dengan demikian, kesalahan, kegagalan, atau apa pun istilahnya ‘dijinakkan’. Salah? Gagal? Tidak apa-apa. Kesalahan terbesar guru menulis mengagung-agungkan kesuksesan dengan mengabaikan belajar dari kesalahan. Guru menulis bodoh mengagung-agungkan kehebatan penulis hebat, bukan bagaimana mengambil inspirasinya.
Model pendidikan menulis begini dilakukan guru menulis tidak kreatif, tidak produktif. Contoh kesuksesan orang lain adalah penguat.
Mari jinakkan kesalahan. Kesalahan adalah akar penguat kesuksesan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.2): Menjinakkan Kegagalan Menulis"
Post a Comment