Thursday, 8 December 2016

Menulis (4.3): Mengampuni Kegagalan

Ersis Warmansyah Abbas

Hidup dan kehidupan ada garisnya. Yang rugi mengutuk dan menyalahkan kegagalan. Pecundang yang menyadari kebodohonnya memicu introspeksi agar tidak gagal lagi. Kehidupan sesungguhnya me-manage diri.
KISAH. Saya mempunyai kisah lawas beraroma kegagalan. Ketika itu saya mahasiswa program sarjana muda IKIP Padang. Suatu ketika, bersama seorang teman mengikuti wawancara untuk program sarjana ke UGM Yogyakarta untuk selanjutnya ke Belanda dalam program kerja sama Indonesia-Belanda. Saya yakin, bukanlah mahasiswa teramat goblok. Secara formal IPK amat sangat bagus.

Pendek kisah, setelah sebulan, karena tidak dipanggil, mendatangi Prof. Taufik Abdullah dan Prof. A.B. Lapian ke Leknas LIPI Jakarta. “Bukan soal bodoh Ersis. Program ini memerlukan peserta wanita, dan dari Padang ada peserta wanita.” Hayya, sebagai ‘penghibur’ diminta menghadap Prof. Sartono di UGM.

Berangkatlah saya ke Yogya. Di UGM diterima Dr. Yang Aisyah. Jawabannya: “Tidak mungkin menambah peserta. Tahun depan mendaftar lagi.” Saya mendaftar program sarjana di IKIP Yogyakarta. Ketika menjadi satu-satunya peserta dari IKIP Yogya angin nasib tidak bagus. Tidak ada kerja sama antara UGM dengan IKIP Yogya.

Saya pernah menulis hal ini, entah di buku mana. Sebagai orang yang ‘lambat dewasa’, memaki diri, memaki pengambil keputusan, menganggap Allah SWT tidak adil. Lulus sarjana IKIP Yogya mengambil program khusus Filsafat di UGM sembari mengajar di SMA Marsudi Luhur Yogyakarta.

Kalau bahasa marahnya, ‘dendam’. Membaca banyak hal ternyata memusingkan. Salurannya menulis di Kedaulatan Rakyat dan media cetak lainnya. Ketika melamar ke IKIP Yogya sebagai tenaga edukatif ditolak BAKN karena sudah mempunyai NIP, ditempatkan di Universitas Lambung Mangkurat melalui perekrutan UGM untuk dosen luar Jawa, rangking puncak di luar peserta dari UGM. Hitung-hitung membayar beasiswa. Sampai hari ini merasa bersalah, kuliah ke Yogya atas rekomendasi Dekan FKPS IKIP Padang. Pelajarannya?

Bertahun-tahun digoda kegagalan. Itulah yang membawa, disadari kemudian, menjadi ‘beringas’. Menjadi pengagum dan menggandrungi Rene Descartes, cogito ergo sum. Kalau diingat-ingat, senyum sendiri. Betapa dungunya.

Tetapi, tidak menyesal. Hidup dan kehidupan sudah ada garisnya. Yang merugikan mengutuk kegagalan, menyalahkan kegagalan. Padahal, bukankah dengan adanya kegagalan menjadi penggila membaca, dan kemudian belajar menulis? Pecundang yang menyadari kebodohannya dalam memicu introspeksi. Kehidupan sesungguhnya adalah memenej diri.

Alhasil, menyadari sebagai pekalah menyejukkan. Kekalahan bukanlah kematian. Kita bisa saja kalah, tetapi menemukan jati diri adalah kemenangan. Artinya, kalau gagal sebagai penulis pemula, itu kecil. Justeru dengan menyadarinya untuk menggenjot kemampuan diri. Memahami kekalahan jalan menuju kesuksesan. Mari mengampuni kegagalan menuju kesuksesan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (4.3): Mengampuni Kegagalan"

Post a Comment