Ersis Warmansyah Abbas
Mereka yang mampu memahami kegagalan, dan menjadikan pemicu sukses berarti mampu mengambil pelajaran dari kegagalan. Berdamailah dengan kegagalan dan jadikan pembelajaran agar tidak gagal (lagi).
DAPAT dipastikan setiap orang pernah mengalami kegagalan. Apa pun bentuknya. Tetapi, tidak semua orang mampu belajar dari kegagalan. Memang bukanlah perkara mudah memahami kegagalan, apalagi berdamai dengan kegagalan. Mereka yang mampu memahami kegagalan, dan menjadikan pemicu sukses berarti mampu mengambil pelajaran dari kegagalan.
Dalam banyak sharing dengan penulis pemula sering dikatakan: ”Sampeyan belum berhasil menulis, atau menjadi penulis karena memang masih memerlukan ‘jam terbang’. Karena itu jangan beralasan. Posisikan diri sebagai pembelajar, pembelajar menulis”.
Berdamai dengan kegagalan setidaknya melegakan hati. Rasionalnya sederhana, diri belum mampu. Tidak usah beralasan atau menuding pihak lain yang salah. Payah-payah menulis, redaktur media tidak mau memuat tulisan yang dibuat ‘berdarah-darah’. Capek memposting tulisan, dicuekin. Menerbitkan buku tidak dibeli pembaca.
Berdamai saja. Mengaku. Sebab, kalau apa yang ditulis bagus pasti dicari orang. Mana mungkin, selama waras, orang mau membaca tulisan jelek. Ibarat pepatah: ada rupa ada harga. Berlian sekalipun terletak di perut bumi akan dicari orang.
Sebaliknya, memang ada orang yang terlahir syirik. Secara psikologis, ada memang orang yang merasa hebat manakala mencaci tulisan kita. Abaikan. Masyak mau dipojokkan oleh mereka yang berpenyakitan begitu? Ada dua ambilan sikap cerdas terhadap hal sedemikian.
Pertama, kalau apa yang didendangkannya benar, akui. Jadikan pertimbangan untuk menulis berikutnya. Jangan sampai, pikiran terganggu gara-gara hal sedemikian. Dari anjing saja kita berhak ‘menerima’ pelajaran, misalnya kesetiaan kepada tuannya, apalagi sesama manusia.
Kedua, kalau membabi buta, cuekin saja. Tulisan dicela OK, tetapi terus menulis. Bagi pencela yang berkembang kepiawaian mencela, bagi kita yang terus menulis, semakin belajar (dari menulis) dan akan didapat keterampilan. Ujung-ujungnya kualitas tulisan meningkat.
Bisa jadi, keinginan kita, manakala salah dalam menulis, kesalahan itu yang diperbaiki. Bukan dihajar. Tetapi, orang punya hak, melihat kesalahan dan dengan itu menikam. Dunia ini dunia bebas. Lalu?
Berdamai dengan kegagalan. Kegagalan bukan musuh abadi. Ambil sisi positifnya. Kegagalan adalah guru. Dalam lihatan sederhana, dalam menulis, dengan mengetahui dan memahami kesalahan, otomatis kita menuju arah tidak salah. Alias tidak mau salah lagi.
Akan halnya kesalahan, dan atau, kegagalan yang telah menjadi, toh tidak dapat diperbaiki. Berdamai saja, maklumi, dan jadikan ‘pedoman’ untuk tidak salah (lagi).
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.4): Berdamai dengan Kegagalan"
Post a Comment