Thursday, 8 December 2016

Menulis (4.5): Menggagalkan Melulu

Ersis Warmansyah Abbas
Takut salah? Takut gagal menulis? Kesalahan, kegagalan adalah ‘teman’, guru. Bisa lebih hebat dari guru formal. Yang bodoh salah, gagal melulu. Apalagi, menggagalkan orang dengan idenya. Bangga kalau orang  gagal.
LETOY. Pernah dihujat seseorang? Kalau belum, berusahalah agar mendapat nikmat dihujat. Bisa sangat menyakitkan atau dijadikan olok-olokan, minimal dalam pikiran sendiri, betapa bodohnya Si Penghujat. Saya lebih memilih yang kedua. Minimal menghibur diri agar aktivitas menulis tidak terganggu. Menulis, menulis, dan terus menulis.

Ada yang berpendapat begini. Kampanye menulis, atau virus menulis yang disebarluaskan ‘meracuni’ banyak orang dan berakibat buruk. Buruk? Yes. Logikanya, saya menganjurkan menulis ‘suka-suka’. Apa yang hendak ditulis, tulis. Tidak usah terbelenggu aturan atau teori. Fasihkan menulis sembari memantapkan dengan teori. Ternyata banyak yang terjangkit virus menghidupkan gairah menulis tersebut.

Saya paham kegelisahannya. Maklum dia berpendidikan formal bahasa, dan mengaku-ngaku ahli bahasa, sastrawan, budayawan, editor, atau apa begitu. Saya hanya pembelajar menulis. Level kami berbeda. Secara sadar berusaha mempengaruhi orang untuk menulis. Bukan guru bahasa tidak dosen bahasa. Tetapi, pasti saya murid para guru dan dosen (bahasa). Berkesimpulan (mudahan salah), pembelajaran formal lebih kepada teori, dan mengabaikan praktek. Karena itu saya berkampanye praktek sembari membangun teori.

Ada memang cuatan alam bawah sadar. Manakala penyebaran virus menulis berhasil sekecil apa pun, tugas ahli bahasa, ahli teori mendandaninya. Tidak terbalik, teori dan pengetahuan kebahasaan berbuah ketakutan menulis. Kampanye yang membebaskan dari ketakutan menulis.

Jutaan orang belajar bahasa (menulis) dari SD sampai PT, tetapi banyak yang takut menulis. Kenapa tidak berbagi tugas? Cara saya yang dungu, membangkitkan semangat menulis. Ketika banyak orang ‘hidup’ urat malunya menjadi berani menulis, saatnya para ahli ‘mendandani’. Itu kalau cara berpikir dibangun berdasarkan pikiran positif.

Saya menyadari, gagal menyadarkan. Tidak mengapa. Kita hidup berdampingan dengan aneka kegagalan, dan kalau sukses pada bagian tertentu, duh nikmatnya. Mari kita reguk nikmat sukses, sekecil apa pun, tetapi jangan pernah menafikan kegagalan. Sebab, kegagalan bagian kehidupan.

Entahlah. Diakui atau tidak, memotivasi dirasakan manfaatnya bagi banyak penulis pemula. Berlagak mencontoh Rasulullah —walaupun secuil— memotivasi dengan memberi contoh; menulis. Mendorong istiqamah menulis. Tidak peduli artikel, puisi, cerpen, sampai novel. Faktanya, produksi buku-buku tidak sedikit. Bukan hendak mematenkan diri sebagai penulis hebat atau menjadi sastrawan. Tidak. Saya (juga) bukan kemaruk menangguk fulus dari hal sedemikian. Buktinya, tidak dijadikan lahan bisnis, sekalipun kesempatan ternganga.

Saya berkeyakinan, menulis menjulang tataran peradaban, bukan sekadar kebudayaan. Karena itu iseng atau nakal, mengkritik guru atau dosen pendongeng. Bertahun-tahun mengajarkan teori ini-itu, tetapi payah menulis. Menyebalkan, merujuk karya penulis hebat-hebat untuk dibandingkan dengan karya ”penulis ingusan”.

Artinya, ada hal mendasar dibalik aktivitas menulis. Tidak berdosa bermimpi, 50 atau 100 tahun Indonesia semarak menulis. Terkadang, manakala merenung sesudah salat malam, betapa tanggungan dosa sebagai dosen, bertahun-tahun memberi kuliah, dan karena itu digaji, tidak mempunyai keberanian menuliskan bahan yang dikuliahkan. Di ruang kuliah ‘mendongeng’ sembari mengutip pendapat Si Anu atu Si Ane. Membusungkan dada kalau hapal dua-tiga teori. Dilakoni berpuluh tahun. Memalukan.

Tepatnya, menjagakan malu diri karena gagal menunaikan hal yang seharusnya dilakukan. Alangkah dungunya, memotivasi menulis, menganjurkan ‘Kreatif Menulis’, tetapi menulisnya letoy. Memaki diri. Dijadikan pemicu dan pemacu bergiat menulis.

Kalaulah diri terpicu, orang lain tergugah, dimana salahnya? Apa dosa kandungannya? Ahay, mengutak-atik kegagalan diri ternyata nikmat. Menertawakan diri. Kesalahan dan kegagalan bukanlah untuk dilestarikan. Menyadari, Insya Allah menjadi pembelajaran.

Takut salah menulis? Takut gagal menulis? No, way. Kesalahan, kegagalan adalah ‘teman’, adalah guru. Bisa jadi, lebih hebat dari guru formal. Dalam kaitan menulis memicu dan memacu menulis. Yang bodoh itu, salah melulu, gagal melulu. Apalagi, ‘menggagalkan’ orang dengan idenya. Bangga kalau orang lain gagal. Kalau yang terakhir orang berpenyakitan. Tidak usah dilayani. Tidak pernah belajar dari kegagalan.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (4.5): Menggagalkan Melulu"

Post a Comment