Ersis Warmansyah Abbas
Manakala kita men-delet tulisan sendiri, apa yang ditulis hilang. Alias, sama dengan tidak menulis. Menulis jangan men-delet.
MENUNGGU. Seseorang sangat kesal karena pesawat yang akan ditumpanginya delay satu jam. Sumpah serapah diumbar. Saya termasuk orang yang setuju bila seseorang kesal menumpahkan kekesalannya. Baik bagi kesehatan jiwa. Katarsis.
“Mbak, bawai menulis saja. Kalau menulis dalam satu jam bisa menghasilkan beberapa tulisan. Kiranya lebih positif dan hasilnya, kalau bermanfaat, bisa bertahan melebihi umur Sampeyan.”
Komentar saya dijawabnya dengan sangat ‘aman’. Ajaibnya, dia merespon melebihi bayangan saya. ”Kalau menulis hanya dalam satu jam, paling-paling dihasilkan beberapa kalimat saja.” Katanya, kalau menulis, disamping menulis dia sibuk mendelet agar tulisan tulisannya perfect. Nah lho.
Men-delet tulisan dalam artian mengedit tentu bagus. Karena begitu penting, ada profesi: editor alias orang yang pekerjaannya membetulkan tulisan. Agar, tulisan lebih ‘berotot’. Editor adalah mereka yang membetulkan, bukan mencari-cari kesalahan tulisan. Yang terakhir, orang berpenyakitan.
Itu pulalah sebabnya, saya sangat jarang mendelet tulisan. Menulis, menjadi tulisan, diposting di blog atau FB, atau disimpan di file komputer. Saya lebih suka orang lain yang ‘ngerjain’, mengedit. Saya menghargai apa yang ditulis. Itu pulalah, sebabnya terkesan ”subur” menulis. Tidak ada kata delet-deletan. Kalau salah, biarkan saja. Rugi kiranya menghabiskan waktu untuk mendelet tulisan sendiri, dan ibarat harimau, membunuh anak sendiri.
Kalau diperdebatkan, bisa bertahun-tahun tidak akan pernah selesai, apalagi dengan mereka yang jago teori. Nyatanya, kiat tersebut menjadikan tulisan saya lumayan banyak dan buku-buku tidak kurang-kurang. Bandingkan saja dengan karya mereka yang suka berdebat atau meluluhkan diri memperlihatkan kehebatan dengan berargumen. Apalagi, dibandingkan mereka yang hobi men-delet tulisannya.
Saya menulis saja. Manakala kita menulis, tulisan akan menjadi. Manakala berdebat, perdebatan yang diperdapat dengan segala akibatnya. Manakala kita men-delet tulisan sendiri, apa yang ditulis hilang. Alias, sama dengan tidak menulis. Menulis jangan men-delet. Tetapi, tidak mudah itu. Ersis seenaknya saja. Ha?
Itulah yang dimaksud dengan belajar dari menulis, belajar dari apa yang ditulis, belajar dari proses menulis, sekalian belajar dari bagaimana kita akan menulis. Dari tulisan. Kalau disadari ketika memproses (menulis) berujung men-delete, ada yang tidak beres; apakah tema, pengetahuan, atau sajian. Kalau ditemukan, jangan diulangi. Itu kuncinya. Membelajarkan diri.
Men-delet tulisan? Rugi deh. Kalau tidak percaya silakan nikmati kerugiannya. Saya ogah ah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (4.6): Mendelet atau Menulis?"
Post a Comment