Thursday, 8 December 2016

Menulis (4.7) Mencumbui Kegagalan

Ersis Warmansyah Abbas
Menjawab tantangan menguatkan diri, dari kesadaran, bahwa perjuangan keniscayaan. Tidak mudah mengeluh, beralasan, apalagi patah semangat. Betapa dahsyat kemampuan belajar dari kesalahan, dari kegagalan.
TIDAK ada orang yang menginginkan kegagalan. Apalagi, berniat gagal. Pada kenyataannya, manakala kegagalan hampir, tidak seorang pun mampu menolaknya. Banyak ‘korban’ kegagalan, mengutuk kegagalan, atau menyalahkan pihak lain. Peraih sukses membuktikan, kesuksesan dibangun atas kemampuan belajar dari kegagalan.

Kegagalan, bisa jadi, akumulasi kesalahan. Sekalipun ada pengaruh luar diri, halnya bermula dari diri. Begitu juga solusi, atau kiat-kiat memaknai, memahami, dan menjadikan kegagalan dalam pandang positifannya, terpulang pada diri, para penderita kegagalan. Begitu dalam kehidupan begitu pula dalam kaitan dengan menulis.Gagal dan kegagalan terpulang pada diri.

Dari sejarah Nabi dan Rasul, dari para manusia hebat, dari pejuang tangguh, kiranya tidaklah berlebihan manakala berkehendak sukses, jangan memusuhi kegagalan, tetapi belajarlah dari kegagalan. ‘Mencumbui kegagalan.” Memahami berarti memaafkan diri.

Tidak terbilang, mereka yang awalnya bergairah, begitu disapa kegagalan, bertekuk lutut. Larut dalam kegagalan dengan mengutuk diri. Bahwa kegagalan menjadikan kita merenung itulah yang tepat; memantapkan tekad untuk tidak gagal. Masih ingat penemu 6.000 lebih temuan? Thomas Alfa Edison. Laboratoriumnya adalah kisah kegagalan yang menjelma menjadi kisah sukses.

Dari paparan terdahulu, kita mematok kegagalan (menulis) dalam kaca pandang diri. Muatannya, kegagalan dijadikan pembelajaran. Alangkah ruginya, manakala kegagalan ditimpakan pada pihak lain. Menyempitkan kesempatan untuk berbenah. Manakala diposisikan sebagai kekurangan diri akan menyadarkan bahwa kita perlu belajar, belajar, dan belajar lagi. Menulis, menulis, dan terus menulis. Sebab, dengan melakukan (menulis) hakikatnya kita belajar.

Memang, adakalanya hal-hal di luar menjadi penghalang, mematahkan semangat atau membuat frustasi, tetapi ingat, tidak satu jalan ke Baitullah. Dengan mendeteksi dan mensiasati penghalang, kita mematangkan strategi agar aktivitas dan kreativitas menulis terpelihara. Kendala adalah tantangan.

Menjawab tantangan menguatkan diri, dari kesadaran, bahwa perjuangan adalah keniscayaan. Tidak mudah mengeluh, beralasan, apalagi patah semangat. Banyak contoh betapa dahsyatnya kemampuan belajar dari kesalahan, dari kegagalan.

Apa yang kita lakukan, kita mau, lebih ditentukan oleh diri dibanding hal di luar diri. Dendaan luar diri yang mematahkan, membelokkan, atau menutup jalan merupakan tugas kita mencari solusinya. Perjuangan memerlukan kecerdasan dan ketangguhan.
Jadi, menulis menuntut kejernihan pikiran, kegigihan, dan kecerdasan me-manage diri. Semoga.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (4.7) Mencumbui Kegagalan"

Post a Comment