Thursday, 8 December 2016

Menulis (5.1): Penilaian dan Kritik Konyol

Ersis Warmansyah Abbas
Kritikus perlu juga diberi pelajaran. Kritik hebat Ok, kritik bermanfaat OK. Tapi, kritikan yang berpangkal sok-sokan dan membunuh, sorry lah yaw. Itu racun.
SABAR. Kritikus tidak selamanya cerdas. Kritikus cerdas, konstruksif, kritikus yang tidak ngawur, dan berniat baik berkontribusi untuk perbaikan tulisan yang dikritiknya. Saya memapar contoh, betapa dungunya kritikus yang menilai berdasarkan persepsinya. Karena ngawur, sangat bagus untuk dinikmati sebagai lelucon tidak bermutu, sekalipun menggelikan.

Pernah membaca novel ASAP karya saya? Tokoh-tokoh sentralnya aneh bagi banyak orang, sementara tokoh piguran diambil atau sedikit diplesetkan dari nama teman-teman. Pada suatu diskusi antar teman sebelum naskah dicetak, dengan analisis tajam ala kritikus hebat, maklum dia mengidentifikasikan diri sebagai kritikus jempolan, bersemangat meraih poin dengan kritiknya.

“Ersis ini bagaimana. Memberi nama tokoh di novel ada standarnya. Saya menyimak. “Mudah diingat, familiar, mengandung makna”, lanjutnya. Pokoknya wejangannya seolah-olah kebenaran. “Tokoh novel tidak boleh sembarangan. Jangan main pleset melulu.” Dan, segudang petuah lain.

Dalam hati bersorak (nah bersorak dalam hati, bagaimana menerjemahkannya, hayo!). Orang ini masuk perangkap kesombongannya. Rupanya dia serius membaca ASAP. Saya tahu, jangankan menulis novel, menulis cerpen saja dia jarang. Maklumlah, mereka yang banyak bicara dan sok jago, menganggap dirinya hebat, tanpa menulis.

Karena keterlaluan, bahkan menjurus mencela, timbul keisengan ‘ngerjain’ ini orang. Jangankan dia, nenek moyangnya saja tidak sanggup menulis novel. Memang menulis novel mudah? Dikasih pelajaran deh.

“Sampeyan tahu daerah tempat lahir saya.” Gagap dia menjawab: “Padang.” Orang sok, pengetahuannya cekak. “OK. Saya dilahirkan di Solok Selatan, Sumatera Barat.” Tentu, dia semakin bingung. Diskusi tentang nama tokoh novel kok membicarakan tempat lahir penulis.

Saya lahir di desa di Sigintir. Dibesarkan di desa Batang Lawe (Lawe). Desa tetangganya, Rawang, Lundang, Lolo, Sapan. Saya sangat terkesan ketika dibawa Bapak sewaktu kecil ke Pekonina menebang kayu untuk memasak, dan Pekonina daerah perkebunan sangat indah di Solok Selatan. Kampung (kelurahan) disebut Pasir Talang, kecamatannya Sungai Pagu.

Jadi, kalau Sampeyan memvonis saya menoreh nama tokoh-tokoh dari plesetan, tidak tepat. Itu nama-nama daerah dimana saya hidup dan berkehidupan sebelum sekolah ke Padang. Mustahil melupakan, dan berkeinginan mempopulerkannya. Seperti ‘kampanye’ Banjarbaru, Kalimantan Selatan, termasuk wadai (kue). Juga, kosakata bahasa Banjar pada level nasional melalui novel.

Saya menikmati kegagapannya. Dia terdiam. Kritikus perlu juga diberi pelajaran. Kritik hebat Ok, kritik bermanfaat OK. Tapi, kritikan yang berpangkal sok-sokan dan membunuh, sorry lah yaw. Itu racun.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (5.1): Penilaian dan Kritik Konyol"

Post a Comment