Ersis Warmansyah Abbas
Teori Intensitas mengarah, mula-mula biasa-biasa saja, boleh cuek bebek, memperhatikan, mencoba, dan keranjingan. Ibarat air menetes setetes demi setetes melubangi batu cadas.
INOVASI. Ersis telah menulis belasan buku perihal motivasi menulis? Yes. Sampai-sampai ada yang menganjurkan diajukan masuk MURI. Padahal, saya bukan sarjana bahasa, tidak guru bahasa, atau dosen kebahasaan. Tidak mempelajari teori menulis, belum pernah mengikuti pelatihan menulis. Kalau memotivasi sering. Menulis dengan melakukan.
Menulis buku Menulis Sangat Mudah (Mata Khatulistiwa, Yogyakarta, 2006 dan cetakan kedua 2007) meminta Prof. Dr. Jumadi, untuk mengeditnya. Kemudian memecahkan rekor sendiri menulis buku Menulis Mari Menulis (2007) dalam seminggu menjadi buku dan langsung dicetak. Prof. Dr. Jumadi yang mengedit ‘mengeluh’: “Apa tidak terlalu banyak buku tentang motivasi menulis Sampeyan?”
Saya menerjemahkan sebagai candaan motivasional sembari membayangkan betapa lelahnya dia mengedit tiga naskah buku sekaligus. Itu komentar Profesor Jumadi. Ada lagi ‘kawan luar’ berkomentar terbalik yang ”menusuk”. ”Banyak sih banyak Ersis menulis buku motivasi menulis, tetapi isinya itu-itu saja.” Ahay, saya teringat ungkapan: [there is] no new [thing] under the sun.
Manakala berprofesi sebagai guru, dosen, atau pengajar apa saja, apa yang diajarkan? Hal itu-itu saja. Begitu tahun kemarin, begitu tahun ini, begitu selanjutnya. Inovasinya dalam mengembangkan esensinya. Kalau boleh menoleh teori iklan: Teori Intensitas, semakin banyak orang ‘di bom’ hal-hal itu saja akan melekat pada pikirannya. Masih ingat pepatah Jawa: witing tresno jalaran soko kulino?
Pernah making love? Kalau sudah menikah, pastilah. Kalau belum menikah, tetapi melakukan, tunggu saja akibat balikannya. Esensi making love yang begitu itu, tetapi teknik, kenikmatan, atau apalah begitu, tidak persis sama setiap melakukannya. Ada saja sensasinya. Sehingga tidak membosanakan. Berinovasi he he.
Teori Intensitas mengarah agar seseorang, mula-mula biasa-biasa saja, boleh pula cuek bebek, berikutnya memperhatikan, berikutnya lagi mencoba, dan akhirnya keranjingan. Dalam berbahasa terkenal istilah language is habit. Ibarat air menetes setetes demi setetes melubangi batu cadas.
Saya berharap, kampanye menulis tiada henti, tidak habis-habisnya di dunia maya dan ‘dunia darat’, pada ketikanya menyentuh dasar keinginan banyak orang untuk menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis.
Untuk apa menulis? Sudah terekam dalam tulisan-tulisan saya. Maaf bila nyinyir memotivasi, terutama bagi anak-anak muda, penulis pemula. Memang disengaja kok.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (5.2) Menjinakkan Kegagalan Menulis"
Post a Comment