Ersis Warmansyah Abbas
Kritikan diambil positifnya. Prinsip belajar menulis dengan melakukan. Manakala (agak) fasih menulis tentu lebih bagus potensi diarahkan untuk lebih serius dalam arti meningkatkan kualitas tulisan.
PROSES. Pernah mengetahui orang manakala melakukan sesuatu maunya menjadi yang terbaik? Menulis apa saja, tidak boleh ada cacat, tidak boleh salah. Salah? Ya, janganlah. Tidak salah tentu bagus. Masalahnya, mampu apa tidak? Lebih dalam lagi, kalau tidak tercapai bisa berakibat pusing sendiri. Kontra produktif.
Sekalipun ada yang tercengang dengan produktivitas saya menulis ada juga yang resah. Itulah yang kemudian dijadikan pangkal tuduhan: Ersis itu kerjaannya menulis melulu. Mengutak-atik internet melulu. Halnya adalah, kalau menulis melulu, lalu kapan mengerjakan tugas kuliah? Saya pehobi berat menonton, jangan coba-coba mengajak main bilyar, biasanya setuju tanpa berpikir panjang. Tanyakan pada teman-teman dekat saya.
Jangan pula heran, diundang ke tempat dimana yang belum dikunjungi, sedapat mungkin dipenuhi. Lalu, bagaimana menulis? Menulis ‘tidak berpikir’. Berpikir sebelum menulis dan memaknai menulis sebagai proses pembelajaran. Membaca, mengamati, atau mencicipi kuliner, berusaha menjadikan konsep di otak. Menulis di otak.
Konsep di otak itu disalin dengan mengetik. Prosesnya 10 sampai 15 menit. Kok bisa? Itu yang dimaksudkan dengan memasihkan menulis. Menyalin kok lama-lama amat. Malahan bermimpi, suatu saat ada yang menciptakan scanner atau komputer yang bisa langsung menerjemahkan sekaligus mengetikkan apa yang ada di pikiran.
Kecepatan menulis bukan tidak berisiko. Hal paling sederhana, karena jari tidak mampu menandingi kecepatan otak, salah pencet deh. Mau dibilang apa, tidak peduli. Lebih mengutamakan menulisnya. Soal perbaikan urusan belakang. Hal sedemikian membuat para perfeksionis atau mereka yang tidak menoleransi kesalahan gregetan. Istilah saya, dicaci atau tidak diakui tidak apa-apa. Tidak mendapat sertifikat penanda kehebatan, no number one, no what-what he he.
Kritikan para pengkritik diambil positifnya. Dikritik merupakan risiko. Kalau takut dilamun ombak jangan berumah di pinggir pantai. Saya berkeinginan menulis agak bagus dan hal tersebut sedang berproses. Saya sedang menulis beberapa buku ajar. Lagi pula, terlanjur memotivasi banyak orang menulis. Hal tersebut tidak mungkin diabaikan, dan bukan tidak mungkin ”dihadiahi” kritikan.
Jadi, prinsip belajar menulis dengan melakukan tidak goyah. Manakala (agak) fasih menulis tentu lebih bagus potensi diarahkan untuk lebih serius dalam arti meningkatkan kualitas tulisan. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (5.3): Risiko Dikritik"
Post a Comment