Ersis Warmansyah Abbas
Belajar menulis, memasihkan menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Artinya, pada proses melakukan tersebutlah pembelajaran terjadi.
ALTERNATIF. Wawang Soekmono yang melabeli diri sebagai Motivator Produktivitas mengirimkan resep dalam formula: STAR+AR. ST (situasi), A (tindakan yang perlu diperbaiki) R (Hasil atas Tindakan yang salah), dan AR: A (Tindakan Alternatif) dan (R) Hasil alternatif yang lebih baik nantinya.
Sejujurnya saya tidak terlalu tertarik dengan formula. Formula yang paling melengket di benak adalah notasi Albert Einstein: E=MC2. Sebenarnya di dunia pendidikan hal tersebut lazim saja. Pernah membaca tentang CAKEP, PAIKEM, CTL, MBS, sampai CBSA? Hal terbaik dari model demikian agar mudah mengingat, dan memahaminya. Yaps, dalam berbuat apa saja kita tidak steril dari kesalahan atau kegagalan.
Pesannya, kita memahami situasi dari memahami ‘posisi’. Dalam kalimat lain, menyadari kesalahan. Dalam konteks menulis memahami kesalahan. Lanjutannya ‘membidik’ tindakan yang benar, dan jangan lupa alternatif tindakan.
Kiranya terlalu berbelit manakala kita mengenakan Teori Sistem. STAR+AR dalam menulis dipahami dari filosofi berani mengakui kesalahan, mencari alternatif (agar tidak salah) dan tentunya dengan hasil lebih baik. Tarikan dalam menulis itulah yang paling kontributif.
Secara filosofis, kita tidak usah mengenakan pisau ontologi, epistemologi atau ontologi, sebab dalam menulis formula tersebut bersua pada konsep menulis tiada henti. Kata kunci ‘hasil alternatif yang lebih baik’ cukup sebagai pembenar.
Harap disadari, tindakan kita tidak selalu benar, kesalahan adalah bagian dari tindakan, tetapi bukan berarti lantas bertekuk lutut untuk tidak menulis. STAR+AR, saya pikir, adalah penyederhanaan dari kehendak menulis dimana proses menulis tiada henti. Sebab, kita menginginkan hasil lebih baik (dari apa yang telah dilakukan dengan melakukan, melakukan, dan terus melakukan menulis).
Saya sepakat pada tataran tersebut. Ada inti soal terangkum di dalamnya. Sebab, muatan daur ulangnya adalah melakukan, memperbaiki, melakukan, dan memperbaiki. Seirama Ersis Writing Theory.
Belajar menulis, memasihkan menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Artinya, pada proses melakukan tersebutlah pembelajaran terjadi. Eloknya, konsep pembelajaran sedemikian sepadan dengan membelajarkan diri. Ujung-ujungnya: Hasil alternatif yang lebih baik nantinya.
Nurturan effeck-nya, kesalahan, kegagalan, atau celaan dipositifkan dalam mencapai hasil lebih baik. Alex Inkeles dalam Modernitation of Man menelorkan formula: nACh; need for Achievement; kebutuhan berprestasi.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (5.4): Mengadopsi Pola Star+AR"
Post a Comment