Thursday, 8 December 2016

Menulis (5.5): Kritik Itu Gratis Lho

Ersis Warmansyah Abbas
Percayalah, selama beraktivitas menulis, pasti dikritik orang. Sampeyan menuliskan gagasan apa pun, sebaik apa pun belum tentu baik bagi orang lain. Dunia ini bukanlah hal ‘tunggal’ (kecuali Allah SWT), yang karena itu wilayahnya wilayah perbedaan.
KRITIKAN. Peter Lantu, penyiar TV Kalsel dan pembawa acara kondang di Tanah Banjar, mempunyai resep netral. Tulisnya: Berdasar pengalaman, kalau ada yang mengkritik diterima dengan senang hati walau terkadang jengah dan upset. Setelah didengar (dibaca) kalau berguna why not? Bermanfaat untuk introspeksi. Gratis lagi he he. Dasar usil juga, kalimatnya dilanjutkan: ”Tetapi, saya kok tidak dikirimi buku oleh EWA.”

Peter boleh saja menjadi penyiar dan pembawa acara handal dan sohor dan telah berpengalaman ”dilempari” kritikan dan hujatan. Harap maklum, kepala boleh sama putih, tetapi hati orang kan ada yang ‘hitam’. Mencapai tangga sukses, tentu Peter merasakan asam-garam kritikan.

Sebagai penulis awam, saya tidak sedikit dihajar kritik. Berita baiknya, kalau bermanfaat berterima kasih. Banyak yang dikirimi buku atau hadiah apa begitu. Kalau dituliskan lagi bagaimana dipanggil, bahkan disidang ‘mereka yang berkuasa’, bisa jadi membosankan. Intinya, seperti ditulis Peter, introspeksi.

Sekalipun demikian, dalam kerangka motivasi, pesan pokoknya, jangan sampai kritikan ‘mematikan’ kehendak menulis. Itu yang tidak boleh. Itu pulalah sebabnya, kritikan didekati dengan dua respon. Kritik konstruktif OK, kritikan destruktif enyahkan. Kritik untuk memperbaiki dan membangun kemampuan.

Satu hal yang perlu diingat, penulis sukses sudah ‘menikmati’ aneka kritik. Ibarat diserang bakteri sudah kebal, imun. Berbeda dengan penulis pemula, dikritik sedikit saja, demam. Seolah dunia berhenti berputar. Menoleh dunia pendidikan, untuk para pemula, kritik bukanlah pembunuh. Ambil pelajaran dari kritikan. Memusuhi ‘tukang kritik’ juga tidak bermanfaat. Terus menulis hingga pengkritik kehilangan lahan.

Lebih mendasar dari apungan tersebut, kritik sebaiknya untuk memperbaiki. Kalau menemukan kesalahan pada tulisan teman, ya diperbaiki dengan mengatakan itu salah dan ini yang benar. Pastilah berbeda halnya dengan mencela atau menghujat. Menghujat tidak ada manfaatnya kecuali memuaskan birahi benci.

Pada pemahaman demikian, kritikan pada akhirnya tergantung kepada yang dikritik. Bisa jadi, setelah seseorang mengkritik dia ngorok. Rugi besar bagi yang terkritik kalau sampai tidak bisa tidur.

Percayalah, selama beraktivitas, manakala menulis, pasti dikritik orang. Sampeyan menuliskan gagasan apa pun, sebaik apa pun (menurut Sampeyan), belum tentu baik bagi orang lain. Dunia ini bukanlah hal ‘tunggal’ (kecuali Allah SWT), yang karena itu wilayahnya wilayah perbedaan.

Pandai-pandailah menerima kritik. Jangan membiasakan menanam di pikiran hal-hal yang merusak pikiran. Jangan menyemaikan virus perusak pikiran. Renggut kritikan konstruktif, gratis pula.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (5.5): Kritik Itu Gratis Lho"

Post a Comment