Thursday, 8 December 2016

Menulis (5.8): Mengamini Kritik Kenapa Tidak?

Ersis Warmansyah Abbas

Kritikan perlu di-manage, dengan satu hal pokok: Untuk memperbaiki. Kalau membunuh? Jangan hiraukan. Tidak ada manfaatnya. Raup kritikan cerdas. Jangan terjebak kritikan desktruktif.

SALAH. Tulisan Sampeyan pernah dikritk? (Wualah, yang dkritik tulisan atau penulisnya he he). Kalau saya sih sudah ‘kenyang’. Jangankan dikritik, dihujat, dan ini yang seru, bahkan pernah ‘disidangkan’ oleh panitia ad hock Senat Fakultas tempat bekerja. Mendapat pengalaman baru. Banyak cara dan jalan untuk mendapatkan pelajaran.

Idealnya, mengkritik tulisan dengan tulisan. Beradu argumen. Bukan dengan kekuasaan. Sekalipun begitu, buat apa disesalkan atau dipikirkan. Membuang-buang waktu dan energi saja. Tidak ada kamusnya, apa yang kita pikirkan, apa yang kita tulis, harus sepaham dengan pikiran orang lain. Dunia ini ”Bumi Manusia”, manusia yang tercipta beraneka ragam.

Pertanyaannya, bagaimana kalau kalah dalam berargumen? Tidak apa-apa. Memangnya kita harus selalu menang? Pada kekalahan dalam adu argumen yang benar, siapa yang kalah mendapatkan pelajaran, mendapat kebenaran. Yang menang berpahala karena menunjukkan kebenaran. Begitu penalarannya.

Salah fakta? Tidak apa-apa. Suatu kali saya menulis, entah kenapa, dimaksudkan menulis Nabi Yusuf, eit, tertulis Nabi Yunus. Seorang anak SMP mengingatkan, yang Pak Ersis maksud Nabi Yusuf. Alhamdulillah. Saya mengiriminya hadiah.

Dalam suatu diskusi, seperti ditulis terdahulu, sebelum novel ASAP dicetak, dengan seorang kawan mendiskusikannya. Pokoknya, salah melulu deh. Ketika kepongahannya dianggap melewati batas, memvonis saya memplesetkan nama, terpaksa memberi pelajaran. Orang yang kurang pengetahuan biasanya cerewet. Dia memvonis saya memelesetkan tokoh-tokoh novel ASAP dari nama teman-teman. Padahal, nama tokoh sentral diambil dari nama kampung dimana saya lahir, menjalani masa kecil, dan kampung terdekat. Berkeinginan mempopulerkan nama kampung.

Dapat diduga siapa pun yang mengkritik tidak berdasar berasal dari niat yang tidak baik. Bisa saja kan kritikus tidak cerdas he he. Memangnya dia bisa memasuki pikiran saya. Mustahil.

Artinya, kritikan perlu di-manage, dengan satu hal pokok: Untuk memperbaiki kemampuan menulis. Kalau membunuh? Jangan hiraukan. Tidak ada manfaatnya. Raup kritikan cerdas. Jangan sampai dijebak dan terjebak kritikan desktruktif. Berbahaya dalam membangun kemampuan menulis.

Dalam bahasa anak muda sekarang, cuekin aja Bro. Jangan takut dikritik. Abaikan kritik tidak berdasar. Kritikan berlandaskan kebodohan, iri, dengki, atau hasad, jangan diberi tempat di ranah pikiran dan rasa.

Rauplah kritikan konstruktif. Kritik yang membangun. Amini kritik membangun.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (5.8): Mengamini Kritik Kenapa Tidak?"

Post a Comment