Ersis Warmansyah Abbas
Istiqamah mencotoh Rasulullah SAW; Islam rahmatan lil alamin. Tidak pernah menyerah dalam berjuang. Tidak memaki-maki, tidak mendendam, taktis dengan segala tindakan kebaikan.
TERJEMAHAN. Bukan apa-apa, siapa saja yang membaca sejarah Muhammad SAW, apa pun keyakinannya, dipastikan kagum dengan prinsip dan kehidupannya. Sebagai Muslim yang sejak kecil dipasok asupan tauladan tidak heran Rasulullah sebagai Manusia Tauladan Sempurna.
Setelah lebih leluasa mengoleksi dan membaca sekitar 300 buku-buku perihal Rasulullah SAW, dapat dikatakan, berbagai segi kehidupan Rasulullah SAW terbaca. Timbul pertanyaan, tetapi kenapa kelakuan masih ‘jahiliyah’? Sungguh, alunan kehidupan masih jauh dari apa yang dicontohkan baginda junjungan. Atau, misalnya, penduduk Indonesia mayoritas Muslim, pengikut Rasulullah SAW, kenapa berkehidupan secara kenegaraan masih membeban?
Sudahlah. Hal tersebut terlalu hebat untuk ditulis. Pertanyaan untuk diri saja susah dijawab dalam artian dipraktikkan. Masih berputar sekitar niat. Ampuni ya Rabb, hambah sesungguhnya masih Muslim yang lemah.
Kalau dikorelasikan dalam kaitan menulis, lebih mencengangkan, ternyata sedikit saja karya anak bangsa tentang Rasulullah SAW. Sebab, ternyata, sebagian besar buku tentang Rasulullah SAW karya terjemahan. Timbul niat menulis tentang Rasulullah SAW dengan perspektif Muslim Indonesia. Ternyata, disamping pengetahuan belum cukup, pemahaman jauh dari sempurna, niat tersebut terhenti. Lebih parah, takut dan ketakutan bergabung.
Itu belum seberapa, membaca karya penulis miring, terutama penulis Barat yang tidak obyektif, menurut saya tentunya, menurut dia ilmiah, membuat telingah merah, dada panas, dongkol, dan seabrek kemarahan. Bukan marah lagi, tetapi puncaknya marah. Mereka bukan mengkritik lagi, tetapi menghina Rasulullah SAW. Ketika menulis tentang Rasulullah SAW di blog banyak pertanyaan dengan logika menghujat didapat. Astagfirullah.
Muhammad hamba syahwat, doyan kawin. Mantan istri anak (angkat) dikawini juga. Berpenyakit kejiwaan, fedofilia; hobi menyetubuhi anak-anak (mengawini Aisyah). Berpenyakit ayan, menggigil sekembali menerima wahyu pertama dari gua Hira. Pendusta sampai Satanic Verses. Pokoknya tidak ada baiknyalah. Bertolak belakang dengan karya Michael H. Hart: The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History.
Dalam kehidupan nyata, soal dihina, dihujat, sampai diperangi adalah langgam kehidupan Manusia Tauladan Agung tersebut. Rasulullah SAW marah? Tidak. Menghadapi dengan sabar. Sampeyan pernah diludahi orang? Kalau terjadi, bisa menjadi pangkal Perang Dunia ke IX. Bagaimana ketika Rasulullah SAW diludahi? Memaafkan. Akhirnya peludah masuk Islam.
Sabar. Istiqamah pada kerasulan; membumikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Tidak pernah menyerah dalam berjuang. Tidak memaki-maki, tidak mendendam, taktis dengan segala tindakan kebaikan. Menulis marah-marah? Dikritik atau dihujat orang marah-marah?
Koneksinya disambungkan, Rasulullah SAW dengan tugas agungnya, junjungan kita memberi contoh, utamakan niat baik, tugas yang diyakini baik dengan sabar. Iblis diizinkan Allah SWT untuk merayu manusia. Justeru, dalam melawan iblis itu perjuangan memuncak gairah. Dikritik, dihujat patah semangat, ‘bunuh diri’ menulis? No, way. Ingat Asmaul Husna ke 99, As-Sobur.
Semasa di Madinah, seorang Yahudi tidak mampu membayar pajak. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW? Kalau tidak mampu tidak usah membayar pajak. Si Yahudi diminta mengajarkan anak-anak Muslim membaca. Solutif. Konstruktif. Perilaku inti Rasulullah membangun.
Dalam kehidupannya, manusia tidak selalu mendapatkan yang diinginkan, tidak selalu benar, atau tidak semua orang akan sepaham dengan apa yang dilakukan. Tetapi, bukan berarti karena demikian harus bermusuhan, harus berperang, atau memutus silaturrahim. Koneksi positifnya, mari belajar dari Rasulullah SAW, sekecil apa pun baru yang dapat kita praktekkan tidak menjadi soal. Meneladani Rasulullah SAW. Belajar, belajar, dan terus belajar.
Persis seperti menempatkan diri dalam belajar menulis dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Kalau sudah merasa jago, jadilah kritikus he he. Kalau boleh bersaran, mengkritik secara konstruktif, solutif. Bukan: Loe salah, diksinya ngawur, logika bahasanya jongkok. Tidak solutif. Tidak memberi contoh. Bukan perilaku Rasulullah SAW.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (5.7): Belajar dari Kritikan Terhadap Rasulullah"
Post a Comment