Thursday, 8 December 2016

Menulis (6.2): Takut Ditolak

Ersis Warmansyah Abbas
Tugas penulis menulis. Memuat tulisan di media cetak atau untuk diterbitkan menjadi buku, itu wewenang orang lain. Bagaimana agar wewenang itu berpihak? Kenapa kecewa, kenapa takut tulisan tidak dimuat?
KOMPAS. ”Pak, tulisan saya tidak dimuat media anu, padahal saya menulisnya sangat bagus”. Seorang yang lain mengeluh, naskah buku saya ditolak penerbit. Ujung-ujungnya malas menulis. Menurut kita, tulisan OK punya, menurut yang punya wewenang, aha tidak pantas diterbitkan.

Kasus tersebut lumayan logis. Ada pula yang, menulis saja belum, tapi sudah takut tulisan tidak dimuat media. Kira-kira konstruk pikirannya, apa yang dia lakukan, apa yang dia tulis, di-OK orang. Sungguh ketidaktepatan penilaian diri dan penilaian (wewenang) orang lain. Tidak ada titik senggolnya. Kesemuanya, menurut saya, kurang paham hakekat menulis. Apa sih maksud menulis?

Saya menulis karena ingin menulis. Menulis karena di pikiran ada yang hendak ditulis. Menulis karena ada yang merasa, jelas subyektif, perlu disampaikan. Menulis karena dengan menulis, setelah tulisan menjadi, begitu biasanya, pikiran plong. Dan, banyak pendorong lainnya.

Yang paling mendasar, menulis haruslah dipahami sebagai pembelajaran. Kalau dikirim ke media cetak, tidak dimuat, tulis lagi, pelajari kekurangan. Pembelajar, masyak bodoh terus, atau mana tahu redakturnya kasian he he.

Seorang teman, peserta program Doktoral UPI, berkisah, sebelum diterima sebagai penulis Kompas pernah ditolak media ‘Anu’ 60 (enam puluh) kali.

Dia bercerita sangat serius. Kita menulis di Kompas (Jabar) yuk, katanya. Ayo, jawab saya. Dia mengirim tulisannya, setelah dimuat, saya mengirim tulisan saya berjudul Jawa Barat Provinsi Pendidikan. Sesuai kesepakatan, dia mengirim tulisan lagi, tiga hari kemudia saya kirim lagi tulisan. Tulisannya belum dimuat, tulisan saya Wisata Pendidikan Bandung dimuat. Saya harus menunggu tulisannya diterbitkan dulu, baru menulis lagi.

Sambil menunggu tulisan kawan tersebut, saya mengedit tulisan teman yang lain. Saya sudah mengancam, kalau sampai Desember tidak dimuat, saya tidak peduli lagi. Sampai selesai kami kuliah tulisannya tidak dimuat Kompas Jabar.

Artinya, tugas kita menulis. Memuat tulisan, itu wewenang orang lain. Bagaimana agar wewenang itu berpihak? Kirimkan tulisan, kirim, kirim, dan kirim lagi. Dari proses sedemikian akan didapat, oh begitu toh. Tetapi, dibalik semua itulah proses belajar. Kenapa kecewa, kenapa takut tulisan tidak dimuat? Ya, itu. Selama tidak tepat menempatkan posisi diri, itulah akibatnya.

Saya tidak kecewa kalau tulisan saya tidak dimuat, sebab saya menulis bukan untuk dimuat (saja). Kalau tulisan dimuat, diberi honor, buku itu bonus namanya. Menulisnya dapat, uangnya dapat. Logika saja yang diposisikan. Menulis karena memang sebaiknya menulis, balikannya adalah bonus belaka. Kalau sudah demikian tidak ada takut lagi bukan?

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (6.2): Takut Ditolak"

Post a Comment