Ersis Warmansyah Abbas
Membangun kemampuan menulis tidak dapat serta-merta. Membaca, penguasaan kosakata, konsep mencukupi, wawasan tidak cekak, asah daya indra, analisis, sampai mengetik dengan melakukan, bukan berangan-angan.
OBSESI. Seseorang menulis artikel dimaksud untuk dimuat di media cetak terbaik, tentu OK-OK saja. Menulis novel dimaksudkan mengalahkan karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, tentu sangat wajar. Berkehendak menulis yang terbagus sehingga begitu menulis langsung populer, tidak mengapa. Apalagi ketika belajar seluk beluk karya tulis guru mencontohkan karya-karya penulis hebat.
Atau, kalau melibatkan diri di arena diskusi, terbuai diskusi karya-karya hebat. Bisa jadi menjadi paling jago menilai karya orang. Jangankan karya penulis pemula, karya maestro dibahas tuntas. Paling-paling yang tidak didiskusikan: OK, kita telah membahas sampai keakar-akarnya, karya Sampeyan mana? Kalau mendiskusikan karya nyata, barulah bertekuk lutut. Memang tidak menulis kok.
Kalau pisau analisis pendidikan dikenakan, ada yang tertinggal. Obsesi terbangun berdasarkan angan-angan. Membaca, mempelajari, membahas, atau mendiskusikan karya terbaik, begitulah sebaiknya. Belajar berkarya, melakukan menulis, menulis dan ada buktinya, jauh lebih baik.
Coba perhatikan komentator sepakbola di TV-TV nasional. Hm, kesalahan Bambang Pamungkas, bahkan ketika Ibrahimovic tergelincir pun disalahkan. Ada saja salahnya.
Pelatih memilih pemain dikecam. Pokoknya, seolah-olah lebih hebat dari Tuhan. Tapi, coba tugaskan menjadi pemain, lima menit bermain, bisa jadi pingsan. Hayya, yang lebih pasti, Tim Nasional kalah selalu he he.
Bisa jadi, kegagalan menulis, satu dari sekian penyebabnya, salah membangun obsesi. Manapula kalau memulai menulis, salah sedikit saja guru dengan ganas menikam: “Loe goblok amat. Karyamu kalah jauh dari karya Pramoedya Ananta Toer.” Ssst, padahal Bu Guru atau Pak Guru tidak menulis he he. Tetapi, lincah menikamkan karya bagus untuk membunuh bakat menulis.
Kemampuan menulis, bagi yang paham pendidikan, dibangun setahap demi setahap. Bukan sim salabim. Bahwa ada beberapa orang yang langsung tokcer, itu soal lain. Tetapi, rata-rata, menulis harus melalui jenjang bertangga. Belajar huruf dulu, kata, kalimat, dan seterusnya. Dan, fasihkan.
Dalam bahasa lain, membangun kemampuan menulis tidak dapat serta-merta. Banyak membaca sehingga penguasaan kosakata memadai, penguasaan konsep mencukupi, wawasan tidak cekak. Mengasah daya tangkap indra, kecanggihan analisis, sampai kemahiran mengetik dimungkinkan dengan melakukan, bukan berangan-angan.
Praktisnya, turunkan kadar angan-angan, agar jangan menjadi belenggu. Tukar dengan melakukan, menulis. Menulisnya yang dilatih, bukan bagaimana berangan-angan menjadi penulis super hebat. Obsesi hebat Ok, angan-angan OK. Untuk merealisasikan diperlukan melakukan, menulis. Mulai dari hal paling dasar, ditingkatkan menuju tangga teratas. Itu baru cerdas.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (6.3): Belenggu Angan"
Post a Comment