Ersis Warmansyah Abbas
Alasan malas menulis galibnya tersebab waktu. Kiat menyiasati waktu dengan me-manage-nya. Kalau menyadari waktu berharga, mempunyai sedikit waktu untuk menulis, dan melatih menulis cepat.
PMK (Pekerja Menulis Komersial). “KIM”, tanya saya, ”pernah didenda malas menulis?” Abdurrahman Hakim yang tengah asyik me-layout buku menjawab pernah. “Kapan dan kenapa?”, tanya saya lagi. “Kalau lagi bentrok dengan pekerjaan lain.” Keseharian Hakim menulis. Dia pemimpin Redaksi Bandjarbaroe Post dan ‘guru’ saya dalam setting dan layout.
“Mar”, tanya saya, “pernah didera malas menulis?” Syamsuwal Qomar yang asyik menyeting buku menjawab tersendat-sendat, pernah. “Kapan dan kenapa?” “Kalau pekerjaan lagi banyak, tugas menulis menumpuk-numpuk.” Seperti Hakim, Qomar berkeseharian menulis. Ketika saya kuliah S3 di Bandung mereka saya minta datang ke Bandung menyelesaikan beberapa buku proyek yang harus kami selesaikan.
Saya tahu persis, Hakim delapan tahun bergabung sementara Qomar baru dua tahun. Mereka Pekerja Menulis Komersial (PMK) he he. Yang namanya malas menulis dalam artian, kehendak menulis menggebu-gebu tetapi enggan melakukan, bagi mereka sudah lewat. Soal waktu, diburu deadline lazim bagi wartawan.
Tentu, mereka yang bekerja profesional dalam tulis-menulis, tidak didenda malas. Masalah mereka me-manage waktu, dan terkadang alokasi waktu yang tersedia sempit. Mereka mempunyai tanggung jawab menulis sepanjang tahun.
Dibandingkan saya, mereka bisa jadi kalah jauh. Saya menulis lebih ‘ganas’. Terkadang harus menulis ulang pekerjaan beberapa orang. Malas? Ya. Bukan malas menulis, tetapi memperbaiki pekerjaan orang. Menulis, bagi kami menggairahkan. Menyenangkan.
Saya mendidik banyak orang dalam pekerjaan tulis-menulis sejak hari pertama dengan satu syarat, tidak boleh beralasan. Bagi yang suka beralasan silakan minggir sebelum dipecat. Untuk yang satu ini tidak ada kompromi. Makanya jarang yang tahan bekerja dengan saya he he.
Nah, benar atau tidak, malas menulis tersebab waktu. Kalau malas karena hal lain tidak dibahas dalam buku ini. Waktu, ya waktu. Kiat menyiasati waktu agar jangan digayuti malas menjadi tema menarik untuk dibahas.
Jawaban pastinya, karena tidak mampu me-manage waktu. Kalau kita menyadari waktu begitu berharga, mempunyai sedikit waktu untuk menulis, harus melatih diri menulis cepat. Ersis ini bagaimana, menulis normal saja sulitnya minta ampun, apalagi menulis cepat. Itu dia.
Saya punya strategi membaca apa yang dapat dibaca, melihat, mendengar, atau memikir apa yang dapar dilakukan. Disimpan di memori, begitu mendapat kesempatan menuliskannya.
Teman sekelas tahu kalau sambil kuliah saya menulis. Menonton video bajakan 2012 sembari menulis. Sambil terkekeh-kekeh menonton Mr. Bean atau Liga Inggris, ya menulis. Tidak usah dibahas, hasilnya yang selama ini Sampeyan baca. Tetapi, tulisan Ersis kan tidak bermutu?
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (6.5): Belenggu Malas"
Post a Comment