Thursday, 8 December 2016

Menulis (6.6): Belenggu Lingkungan

Ersis Warmansyah Abbas
Kita harus menundukkan diri sendiri dan menundukkan lingkungan. Minimal, ‘berkolusi’ dengan lingkungan. Senangkan lingkungan, senangi ‘atasan’. Jangan ciptakan lingkungan menjadi belenggu.
TERPANTIK. Pertama membaca tulisan Bapak saya dongkol, marah, dan merasa terhina. Sebagai guru yang sudah belasan tahun mengajar memang memakai buku karya orang, atau buku paket. Praktik tersebut sudah sesuai prosedur. Apa salahnya?

Tetapi, setelah membaca lebih serius, saya paham maksud Bapak. Saya mulai menulis. Kini beberapa puisi dan cerpen saya dipakai sebagai pelengkap. Mendiskusikan karya kita, proses kreatif kita, ternyata menyenangkan ya Pak. Saya akan terus menulis. Terima kasih dan maaf.

Ya, kalau mau jujur, guru dan dosen teramat sedikit yang memakai karyanya untuk pembelajaran. Bagaimana mau memakai, kalau menulis saja tidak he he. Begitulah kenyataan obyektif di lingkungan pendidikan.

Apa boleh buat, terutama saya, barulah mampu menjadi penyampai, menjadi ”makelar” pikiran dan karya orang. Berdasarkan itu merasa hebat, merasa menjadi intelektual, tanpa mampu menghasilkan karya sendiri, Hm, belajar ah.

Belajar. Belajar. Belajar menulis ternyata mengasyikkan. Belajar menulis berarti belajar membaca, mengamati, mendengar, dan seterusnya. Jadilah, manusia pembelajar. Mana tahu nanti akan sampai pada kondisi, selamat tinggal lingkungan tidak menulis, tidak berkarya (tulis).

Tetapi itu tidak mudah. Cobalah menulis sesuatu, kalau berposisi di lingkungan tidak berkebudayaan menulis, hanya ada kemungkinan, dicemooh atau dipuji. Apalagi kalau tulisannya ‘gaya’ tulisan saya yang terkadang ‘nakal’. Cenderung dihajar he he. Bisa bikin kapok.

Artinya, disamping kita harus menundukkan diri sendiri, harus pula menundukkan lingkungan. Minimal, ‘berkolusi’ dengan lingkungan. Tidak usah mengkritik, senangkan lingkungan, senangi ‘atasan’. Kalau dia suka dan menjadi ”makelar”, penyampai terbaik pikiran-pikiran orang lain, tulis sesuai dengan keinginannya. Sampeyan akan selamat.

Hanya saja, menulis bukan untuk berkolusi atau menyenangkan lingkungan, adakalanya untuk merubah lingkungan. Dan, itu berisiko. Saya pernah dihadapkan pada panitia ad hock di lumbung intelektual gara-gara tulisan. Dalam otak saya, tulisan dibalas dengan tulisan. Nyatanya, berhadapan dengan panitia ad hock para guru besar. Kereeen.

Belenggu dalam bentuk lain, menghadang berjejar yang sebaiknya dijadikan untuk lebih mempiawaikan menulis. Sebagai penyemangat, di lingkungan orang-orang yang tidak menulis, kalau menulis, kita lebih unggul. Jangan sampai dikalahkan oleh mereka yang tidak menulis. Masyak sih yang belajar dikalahkan oleh ‘orang ngorok’.

Belenggu lingkungan, sejatinya adalah tantangan agar kita lebih terangsang untuk menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (6.6): Belenggu Lingkungan"

Post a Comment