Ersis Warmansyah Abbas
Jangan sok tahu. Pengamat yang baik memberi contoh. Menulis, tidak ada urusan dengan amat-amatan. Siapa yang menulis menghasilkan karya tulis. Siapa yang tidak menulis tidak mempunyai karya tulis.
BERBAGI. Setiap orang mampu berpikir, mempunyai pengetahuan, dan pengalaman. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak bisa menulis kalau berkemauan. Hanya saja, antara mau dan mampu, dua hal berbeda. Mau lebih kepada keinginan atau kehendak. Mau akan menjadi manakala dilakukan. Melakukan, tidak semudah berkemauan. Mampu bukan soal memikirkan atau mengangankan, tetapi melakukan berbuah kemampuan.
Implikasinya, kalau berkemauan menulis asah kemampuan. Mengasah kemampuan dengan melakukan; menulis, menulis, dan terus menulis. Tidak perlu belajar teori menulis? Siapa bilang. Teori penting, pengetahuan penting, nasehat guru penting. Tetapi, tidak akan menjadi kemampuan kalau menulisnya tidak dilakukan.
Banyak orang berpengetahuan luas, menguasai aneka teori, pengalaman kehidupan lebih dari cukup. Tuntutan profesi apa lagi. Tetapi, tidak menulis. Ya, nihil karya tulis.
Karena itu jangan sok tahu. Misal, seperti pengamat. Pengamat yang baik memberi contoh. Menulis, tidak ada urusan dengan amat-amatan. Siapa yang menulis menghasilkan karya tulis. Siapa yang tidak menulis tidak mempunyai karya tulis.
Dengan kata lain, menulislah dalam arti belajar, melakukan (menulis). Pada posisi ini jangan sok tahu, sok bisa. Tidak ada debat-debatan, tidak ada hebat-hebatan, atau mencitrakan diri sebagai orang hebat.
Manakala apa yang ditulis telah menjadi tulisan, tulisan itu yang ”berbicara”, tulisan itu yang membentuk image. Mereka yang sok tahu, susah melahirkan karya tulis. Mereka yang hobi menilai, menghajar, atau melecehkan tulisan orang, akan susah menulis. Mereka membiasakan diri mencela, bukan menulis. Penulis lebih memilih membangun diri, membangun kemampuan menulis dari bersok-sok pintar (menulis).
Ya, menulis akan menyedot waktu luang untuk belajar. Menulis ‘memaksa’ berlatih, membangun kemampuan, tidak untuk berbusung dada: “Saya hebat.” Penulis adalah mereka yang selalu mau dan mampu belajar. Tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memancangkan kehebatan diri. Menulis belajar, dan pelajar tidak sok tahu.
Mereka yang merasa dirinya serba tahu, sempurna, apalagi tidak mau berbagi, egois, akan sulit untuk menulis. Menulis akan menjadi kehebatan ketika seseorang membelajarkan diri, berkemauan berbagi perjuangan dan hikmah untuk perjuangan kebaikan bersama. Menulis berbagi. Mustahil bagi pemeluk ‘agama’ sok hebat atau Si Egois.
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (6.7): Belenggu Sok Tahu"
Post a Comment