Ersis Warmansyah Abbas
Pembelajar sejati mereka yang tidak menutup diri. Suka dan tidak suka, itu hal lazim. Yang tidak elok didenda yang tidak disukai. Untuk itu perlu benteng diri, jangan merusak diri. Tidak semua hal pantas disukai dan bisa disukai.
SELF. Bersama teman-teman sesama mahasiswa S3 IPS UPI Bandung kami rutin berdiskusi di kos saya yang berujung kesepakatan bergiat menulis. Menulis satu diantara sekian jalur belajar sekaligus berdakwah. Diskusi dan tulisan dilandasi, setiap orang mempunyai frame of mind, setiap individu berbeda dari lainnya, individual differences. Pemaksaan atas lainnya tidak valid.
Begitulah, ketika kita tidak suka terhadap sesuatu, tidak usah gelisah. Apalagi, membenci. Mengambil hal-hal bermanfaat lebih positif. Membenci merusak diri. Islam rahmatin lil alamin. Bisa jadi ketika melihat sesuatu, aktivitas sesuatu, apalagi tulisan, melahirkan respon. Respon adalah hal wajar ketika diri dipantik sesuatu dari luar diri.
Biasanya kalau hal menyenangkan, kita tersenang. Sebaliknya, ketika tidak cocok, reaksi keras tercuat. Masalahnya adalah, apakah orang lain tidak berhak menjadi dirinya sementara kita berjuang menjadi diri sendiri, be yourself? Keinginan, kalau tidak dikendalikan, berbuah amarah, benci, dengki, dan seterusnya. Kalau demikian, pemaksaan menjadi. Musuh kemerdekaan.
Kami juga bersepakat, bahwa dalam pertemanan, keberbedaan menjadi landasan menuju pemahaman. Maklum, beberapa tahun ke depan akan sama-sama meluluhkan diri menjadi pelajar. Belajar sesungguhnya membelajarkan diri.
Pada posisi demikian, termangu. Ya, seperti juga menulis, belajar, belajar, dan terus belajar. Kita belajar menulis makalah, book report, book review, dan seterusnya. Banyak hal dilakukan sendiri-sendiri atau bersama, tergantung tugas yang harus dikerjakan.
Dalam pada itu, belajar menulis umum tidak kalah menantang. Target, menembus beberapa media umum. Menulis jurnal sudah keharusan, kewajiban akademik.
Yang dihindarkan, setidaknya belajar menghindari, memasalahkan yang tidak disukai. Misal, tidak suka dengan blog atau FB seseorang, ya tidak usah dilihat. Tidak suka pikiran Huntington, ya jangan dibaca. Kalau tugas kuliah, ya apa boleh buat, kerjakan. Lebih menyadarkan, belajar atau mempelajari yang tidak disukai menantang.
Dengan kata lain, pembelajar sejati adalah mereka yang tidak menutup diri. Bahwa, suka dan tidak suka, itu hal lazim. Yang tidak elok adalah, didenda oleh yang tidak disukai. Untuk itu perlu benteng diri, jangan merusak diri. Tidak semua hal pantas disukai dan bisa disukai.
Lebih hebat, yang membuat mereka terbahak-bahak, belajar menyukai menulis. Mereka memaki: “Dasar motivator nekad”. Tetapi, tidak memaksa kan?
Bagaimana menurut Sampeyan?
0 Comment to "Menulis (6.8): Belenggu Pendapat"
Post a Comment