Thursday, 8 December 2016

Menulis (6.9): Belenggu Pengecut

Ersis Warmansyah Abbas
Kata kunci menulis ‘Berani Memulai’. Banyak orang tidak berani memulai. Berapa waktu diperlukan untuk melawan kepengecutan untuk menikah, eit berani menyesal. Kenapa tidak dari dulu-dulu. Kenyamanan kok ditunda-tunda.
MENIKAM. Seorang teman mengeluh: “Tulisanku tidak dimuat juga, kenapa ya?” Saya sudah mengedit tulisannya. Tema, konten, analisis dan sajian tulisannya bagus. Tetapi, redaktur media massa yang dikirimi tulisannya belum berterima. Padahal, Si Teman penerjemah buku dan telah menulis beberapa buku. Tetapi, ya itu tadi, untuk menulis populer dia beberapa langkah di belakang saya.

Sekalipun demikian, ada satu hal: Berani Memulai. Sehebat apa pun dia menerjemah karya asing, menerbitkan buku, menulis untuk media massa, tunggu dulu. Saya terpaksa memberi kuliah gratis. Pandai memindai isu, tema, sajian, dan bla-bla. Bagi pesombong, menulis populer bisa jadi dikatakan enteng-enteng saja, tetapi coba kirim tulisan ke media massa, baru tahu rasa.

Bagi pemula, kata kuncinya ‘Berani Memulai’. Banyak orang tidak berani memulai. Coba ingat, berapa waktu diperlukan untuk melawan kepengecutan untuk menikah. Eit, setelah berani dan menikah, menyesal. Kenapa tidak dari dulu-dulu. Kenyamanan kok ditunda-tunda.

Begitulah. Sebelum menulis buku pertama, saya juga berpikir agak panjang. Pengecut, atau dalam bahasa bersahabatnya, dengan pertimbangan ini-itu. Ternyata, setelah buku pertama, menulis puluhan buku biasa-biasa saja tu. ‘Berani Memulai’, melawan kepengecutan diri. Istilah lainnya dalam sharing menulis: Berani Malu. Kalau tidak berterima, perbaiki. Kirim lagi. Belajar lagi. Kalau tidak dioke redaktur atau penerbit, buat yang lebih bagus. Enteng saja. Ringan. Ringkas.


Banyak orang berpotensi menulis, tetapi tidak berani memulai. Akibatnya, menjadi pembaca doang. Salah? Ya, tidaklah. Hanya saja, sayang ilmu yang dipelajari ”berdarah-darah” nya, kasihan pengalaman yang tidak sedikit. Bukankah akan lebih bermanfaat manakala teman atau orang lain bisa belajar dari kehebatannya?

Ada seorang teman hebat yang saya kagumi. Saya merasa rendah diri memompa semangat menulisnya. Frustrasi. Saya gagal memotivasinya. Dia tidak mau, atau tidak berani (memulai) menulis. Maafkan kegagalan hamba, ya Allah.

Ada pula teman yang kalau orang lain menulis, sangat jeli memindai kekurangan tulisan teman, dan menikam. Sampai-sampai seorang anak muda dikomen FB saya menulis: “Pak, kenapa kawan sendiri tidak menghargai tulisan kita. Dia lihat saja tidak, atau kalau dibaca, dimatikan.”

Ahai. Saya tidak percaya. Pengalaman saya, mereka membaca kok. Cuma diam-diam. Dia kagum. Tetapi, tidak berani terang-terangan. Dia ingin menulis. Tetapi, pengecut. Belum berani he he. Maklum, saya memotivasi.

Berani melawan kepengecutan, berani menghadapi kenyataan. Seorang teman, mempunyai pengalaman hebat. Sebelum tulisan pertamanya dimuat, mengirim artikel 60 kali ke media cetak nasional. Kini, dia menjadi penulis hebat. Yang membuat keder: “Pak Ersis kalau tulisan dimuat di media cetak oleh kampus Bapak diberi penghargaan berapa?”

Pertanyaanya menusuk. Kampusnya, Universitas Negeri Surabaya, UNESA, memberi Rp.600.000,00 per tulisan. Saya? Saya kan tidak mau membuat malu kampus saya he he.
Yaps, mari berani memulai. Berani Malu. Menulis melawan diri. Kalau bisa menundukkan diri, Insya Allah tidak terlalu sulit menundukkan kendala luar diri. Percaya atau tidak, silakan buktikan. Selamat menulis.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Share this

0 Comment to "Menulis (6.9): Belenggu Pengecut"

Post a Comment